Showing posts with label TESIS PSIKOLOGI. Show all posts
Showing posts with label TESIS PSIKOLOGI. Show all posts

PROSES TERBENTUKNYA RESILIENSI PADA WANITA KORBAN PERKOSAAN Suatu Pendekatan Studi Kasus

INTISARI
Penelitian ini difokuskan pada resiliensi wanita korban perkosaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus yang bertujuan untuk mengetahui proses perjalanan individu da lam memulihkan kondisi dirinya dari trauma akibat perkosaan, sehingga peneliti dapat menemukan dinamika psikologis korban perkosaan, yang secara spesifik diterjemahkan dalam tujuan khusus yaitu, memahami faktor-faktor penentu yang dapat menimbulkan resilie nsi pada wanita korban perkosaan, memahami proses terbentuknya resiliensi pada wanita korban perkosaan dan memahami strategi yang digunakan korban perkosaan dalam mengatasi permasalahan ini. [DOWNLOAD LENGKAP]
Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi untuk mengumpulkan data dari empat partisipan.

DENDAM DAN PEMAAFAN DALAM KONFLIK ANTAR KELOMPOK (Studi kasus pada Tawuran Kelompok Mahasiswa di Makassar)


ABSTRACT: The case of brawl frequently occurred between groups of student in Makassar during the late ten years showed the existence of unresolved intergroup conflict and resentment feeling continuously inherited. The aim of this study is to find out a comprehensive picture of brawl behavior between groups of student in Makassar, particularly on the triggers and latent causes of brawl and the dynamics of revenge and forgiveness in conflict between groups of student in Makassar. Subjects of the study were six actors involved in student brawl mostly frequent occurred between the groups of student from both Faculty of Engineering and Faculty of Languages and Art at the State University of Makassar. Data were collected through interview and observation, while the data collected were analyzed with other sources of data such as polices, witnesses for brawl, and both printed- and electronic-media news using a triangulation technique.

KETERLIBATAN ORANGTUA DAN EFIKASI DIRI MATEMATIKA DAN PREDIKSINYA TERHADAP KEMAMPUAN MATEMATIKA PADA SISWA SD


ABSTRACT: This study was based on the phenomenon of the low value of Mathematics obtained by elementary students in the National Examination, when compared with other subjects. That phenomenon may indicate the low level of Mathematics ability possessed by elementary students. Therefore, this study aims to analyze and assess the Mathematics ability in elementary students that are assessed based on parental involvement and Mathematics self-efficacy. The study was conducted with a quantitative approach and performed in Sleman, Yogyakarta. Measurement of Mathematics ability is done by using Mathematics Ability Test that prepared by the authors who have studied students’ syllabus. Parental involvement variable was measured using an adaptation of Parental Involvement Measurement Mechanisms

HUBUNGAN BELAJAR BERDASAR REGULASI DIRI DAN KEOTORITATIFAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA


ABSTRACT: The aim of this study is seek to find out the correlation between self-regulated learning and authoritative parenting style with mathematics academic achievements. Seventy-seven eleventh graders from “MAN A” Yogyakarta participated in this research. The instruments used in the study were student’s achievement report cards and scales. The scales used in this study were self-regulated learning scale and authoritative parenting style scale. Mathematics achievement score were collected by documenting the result of the odd semester daily tests. Major hypothesis was analyzed using regression method with two predictors; both minor hypotheses were analyzed using partial correlation method. The result of this research shown that (1) there was significant relationship between self-regulated learning and authoritative parenting style with mathematics academic achievements; (2) there was positive and significant relationship between self-regulated learning and student’s mathematics academic achievement, (3) there was positive relationship between authoritative parenting style and mathematics academic achievements.

BELAJAR BERDASAR REGULASI DIRI DITINJAU DARI KESADARAN DIRI DAN KECERDASAN EMOSI PADA MAHASISWA SEMINARI TINGGI



INTISARI Penelitian ini bertujuan mengungkap tingkat pengaruh langsung kesadaran diri (KD) dan kecerdasan emosi (KE) terhadap belajar berdasar regulasi diri (BBRD) pada mahasiswa Seminari Tinggi. Penelitian ini juga bertujuan untuk mencari tingkat signifikansi prediktor belajar berdasar regulasi diri.
Data penelitian diperoleh melalui metode survey terhadap 56 mahasiswa Seminari Tinggi St. Paulus (tingkat III dan IV), sebagai subjek penelitian. Skala Belajar Berdasar Regulasi Diri, Skala Kesadaran Diri, dan Skala Kecerdasan Emosi merupakan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi sederhana dan ganda dengan bantuan program statistik SPSS Versi 13,0 for Windows.

KOMPETENSI SOSIAL ANAK DITINJAU DARI KELEKATAN AMANDAN JENIS KELAMIN

DOWNLOAD GRATIS


INTISARI
Salah satu permasalahan kompetensi sosial yang sering terjadi pada masa prasekolah adalah ketidakmampuan anak dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Meskipun demikian, permasalahan tersebut harus segera diatasi melalui kelekatan aman yang tercipta antara anak dan ibu sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk menge tahui hubungan antara kelekatan aman dan jenis kelamin dengan kompetensi sosial anak. Subjek penelitian ini adalah anak Taman Kanak-kanak (TK) yang berusia 3-5 tahun. Jumlah keseluruhan subjek yang berpartisipasi adalah 40 anak (24 anak laki-laki dan 16 anak perempuan) yang terdiri dari 8 anak yang berusia 3 tahun, 18 anak yang berusia 4 tahun dan 14 anak yang berusia 5 tahun.

PENGARUH IMPLEMENTASI THE ANTI BULLYING AND TEASING PROGRAM TEMA KOMUNITAS OLEH GURU DALAM MENURUNKAN FREKUENSI PERILAKU BULLYING DI KELAS TAMAN KANAK-KANAK



Adi Dinardinata
Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRACT
The purpose of this study was to examine the effectiveness of The Anti Bullying and Teasing Program to decrease the frequency of bullying behavior and also its intensity in preschool classroom. Students of two classrooms in the same preschool whose meet the criteria of inclusion was included as subjects of study. The untreated control group design with removed treatment was used to examine the program’s effect. The program is based on The Anti Bullying and Teasing Book for Preschool Classroom (Sprung, Froschl, & Hinitz, 2005). The program was consisted of six hours intensive orientation program for teachers and ten sessions of community theme activities for students implemented by teachers. This study showed that the Anti Bullying and Teasing Program had an influence on the decreasing frequency of bullying behavior in subjects.
Keywords: Bullying frequency, The Anti Bullying and Teasing Program for Preschool Classroom 
 


Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilaksanakan pada bulan maret 2010, ditemukan bahwa 48,78% dari 123 orang guru Taman Kanak-kanak (TK) di Sleman Yogyakarta melaporkan adanya siswa tertentu di kelasnya yang sering kali menjadi korban perilaku agresif teman-temannya. Perilaku-perilaku agresif yang dimaksud antara lain adalah agresivitas verbal (yaitu menertawakan teman, mengatakan hal-hal yang jahat kepada teman, dan membungkam teman), agresivitas terkait barang kepemilikan teman (yaitu merampas barang milik teman, menghancurkan barang milik teman, dan menyembunyikan barang milik teman), agresivitas fisik (yaitu menarik rambut teman, memukul teman, menggigit teman, dan menendang teman), serta agresivitas psikologis (yaitu tidak mengizinkan teman untuk bergabung dan tidak mengizinkan teman untuk duduk di dekatnya). Ditemukannya siswa yang sering korban perilaku agresif teman-temannya di kelas, baik secara verbal, fisik, psikologis, maupun agresivitas terkait barang kepemilikan ini mengindikasikan bahwa bullying telah ada pada TK-TK di wilayah Sleman, tidak sekedar perilaku agresif biasa.

Hasil temuan di atas menguatkan temuan Perren (2000) bahwa bullying telah ada sejak di TK. Dalam penelitiannya, Perren menemukan bahwa 37% dari total anak-anak TK yang diamati secara aktif dan teratur terlibat dalam bullying, baik itu sebagai korban, sebagai pe laku, maupun sebagai keduanya. Angka ini menunjukkan bahwa kejadian bullying terjadi cukup sering di TK. Di 16 dari 18 kelompok TK, setidaknya satu anak menjadi pelaku atau korban bullying sebanyak beberapa kali dalam seminggu. Di dua kelompok TK sisanya, skor bullying muncul paling banyak sekali dalam seminggu. Selain itu, terdapat catatan tambahan dalam penelitian itu bahwa hasil pengamatan menunjukkan adanya indikasi bahwa anak dan guru kemungkinan hanya melaporkan kasus-kasus yang paling ekstrem saja. Dari temuan-temuan tersebut, dapat dikatakan bahwa bullying merupakan kejadian sehari-hari di TK.

Ditemukannya bullying di TK perlu menjadi perhatian, karena idealnya, bullying tidak perlu ada di TK. Setidaknya ada dua alasan yang mendasari mengapa sebaiknya tidak perlu ada bullying di TK. Alasan pertama, bullying membawa berbagai implikasi yang tidak menguntungkan, baik itu bagi korban maupun pelaku perilaku agresif. Dari sisi korban, beberapa implikasi negatif yang telah teridentifikasi secara ilmiah di antaranya adalah simptom-simptom emosional berupa murung, menangis, dan tampak tidak bahagia (Malti, Perren, & Buchmann, 2010); kurang mampu menyesuaikan diri (Coplan, Arbeau & Armer, 2007); serta perilaku anti sosial seperti menarik diri, tidak memiliki banyak teman, kurang bergaul dan bermain sendiri, kurang asertif, serta kurang mampu memimpin (Perren, 2000). Dari sisi pelaku, implikasi negatif yang telah teridentifikasi di antaranya adalah resiko diagnosa gangguan perilaku (Edmond, Ormel, Veenstra, & Oldehinkel,  2007) dan resiko keterlibatan dalam tindak kriminalitas di hari depan (Sourander, dkk, 2007). Selain itu, ditemukan pula bahwa sebagian dari korban bullying dapat ikut menjadi pelaku bullying (Schwartz, Ketchum, Dodge, Pettit,  & Bates, 1999; Perren, 2000; Perren & Alsaker, 2006). Selain memiliki efek negatif secara sosial, bullying juga memiliki efek negatif secara akademis, yaitu dapat mempengaruhi prestasi akademis anak di kelas (Zitmann, 2000).

Alasan kedua, Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah mengamanatkan pada orang tua, wali, atau pihak lain yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak bahwa setiap anak yang berada dalam pengasuhan mereka berhak mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi, penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiayaan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya. Amanat tersebut tertuang pada pasal 13 di BAB III tentang Hak dan Kewajiban Anak. Selain  itu, pada pasal 16 disebutkan bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Dengan demikian, selain penting untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan implikasi negatif yang dapat menimpa anak, upaya-upaya dalam melindungi anak dari perilaku kekerasan telah diamanatkan secara formal di dalam Undang-Undang negara. Dua alasan di atas menjelaskan tentang  mengapa program-program pencegahan bullying perlu dilakukan sejak TK


Pengertian Olweus (1993) dan Perren (2000) menggolongkan bullying  sebagai sub-bagian dari perilaku agresif. Adapun yang dimaksud dengan perilaku agresif adalah perilaku yang melukai orang lain, mengganggu orang lain, atau diniatkan untuk itu.

Lebih lanjut, Perren mengajukan ciri yang membedakan bullying dengan perilaku agresif biasa, yaitu adanya ketidakseimbangan kekuatan, di mana bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan oleh pihak yang lebih kuat kepada pihak yang lebih lemah. Ciri ini disimpulkan dari penekanan Perren (2000) terhadap pandangan Olweus yang menyatakan bahwa istilah bullying sebaiknya tidak digunakan ketika dua orang dengan kekuatan yang kurang lebih sama sedang bertengkar atau berkelahi. Untuk dapat dikategorikan sebagai  bullying, ciri ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban perlu ada, di mana korban mengalami kesulitan untuk mempertahankan dirinya, atau korban lebih lemah baik secara fisiologis maupun secara psikologis. Pendapat Perren ini dikuatkan oleh Rigby (1996) yang menjelaskan  bullying  sebagai “tekanan berulang, secara fisik atau psikis, oleh orang atau kelompok yang lebih kuat terhadap orang yang lebih lemah.

Perren dan Olweus mengajukan ciri kedua yang  membedakan antara bullying dan perilaku agresif biasa, yaitu pengulangan perilaku. Ciri pengulangan perilaku ini didasarkan pada pernyataan Olweus (1993) yang dikutip kembali oleh Perren (2000), yang menyatakan bahwa “seorang siswa disebut sebagai korban bullying atau di bully ketika ia mendapat perilaku negatif, secara berulang di lain kesempatan”.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, disimpulkan bahwa bullying merupakan perilaku agresif yang memiliki dua tambahan ciri, yaitu (1) berulang dan (2) dilakukan oleh pihak yang lebih kuat kepada pihak yang lebih lemah. Definisi tersebut mengandung sedikitnya tiga aspek, yaitu aspek agresi, aspek ketidakseimbangan kekuatan, dan aspek  pengulangan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jika seorang atau sekelompok siswa/siswi yang lebih kuat melakukan aksi negatif terhadap siswa lain yang lebih  lemah, dan perilaku negatif tersebut diulang di lain kesempatan, maka dapat dikatakan bahwa siswa/siswi tersebut melakukan tindak bullying.
 

APLIKASI MODEL POLITOMI TEORI RESPON AITEM DALAM ANALISIS KARAKTERISTIK PSIKOMETRI PADA SKALA KESULITAN HUBUNGAN INTERPERSONAL REMAJA


Oleh: Sukaesi Marianti dan Sugiyanto
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik psikometri dari SKHIR (terjemahan Indonesia dari QIDA; Inglés, Méndez, & Hidalgo, 2000). SKHIR cocok untuk remaja berusia antara 12 sampai 18 tahun. Dalam penelitian ini SKHIR diberikan pada sampel yang terdiri dari 637 siswa SMA dan SMP. Dengan menggunakan  analisis faktor konfirmatori dan  korelasi aitem-total ditemukan bahwa 4 dari 40 aitem gugur, 36 aitem yang  tersisa dianalisis menggunakan model respon bertingkat untuk data politomi ordinal dan 6 aitem ditemukan sebagai aitem yang gugur. Hasil akhir menunjukkan bahwa 30 dari 40 aitem memiliki karakteristik psikometri yang baik. Disimpulkan bahwa 30 item SKHIR dapat dianjurkan untuk penggunaan lebih lanjut.
Kata Kunci : SKHIR, karakteristik psikometri, model respon bertingkat.


APPLYING ITEM RESPONSE THEORY POLYTOMOUS MODEL FOR PSYCHOMETRIC PROPERTIES ANALYSIS OF QUESTIONNAIRE ABOUT INTERPERSONAL DIFFICULTIES FOR ADOLESCENTS

ABSTRACT
The aim of this study was to analyze the psychometric properties of the SKHIR (the Indonesian translation of the QIDA; Inglés, Méndez, & Hidalgo, 2000). SKHIR is suitable for adolescents between the ages of 12 and 18 years old. In this study, SKHIR was administered to a sample of 637 middle and high school pupils. Using confirmatory factor analysis and item-total correlations we found evidence that 4 of 40 items were discarded from this study, 36 retaining items were analyzed by graded response model for ordered polytomous data and 6 items were found as discarded items. The final result indicated that 30 of 40 items had desirable psychometric properties. It is concluded that the SKHIR can be recommended for further use.
Keywords : SKHIR, psychometric properties, graded response model.

BAB I  PENGANTAR
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Identifikasi Masalah
C.     Rumusan Masalah
D.    Tujuan Penelitian
E.     Keaslian Penelitian
F.      Manfaat Penelitian
BAB II  TINJAUAN PUSTAKA
Sejarah perkembangan
A.    Model Politomi Teori Respon Aitem.
1.    Sejarah Perkembangan
2.    Asumsi
3.    Model Ogif Normal dan Model Logistik
4.    Model-Model Politomi
5.    Kecocokan Model
6.    Estimasi Parameter
7.    Fungsi Informasi
B.     Penterjemahan
1. Metode Evaluasi Kualitas terjemahan
C.     Questionnaire about Interpersonal Difficulties for Adolescents
1.    Sejarah Perkembangan
2.    Materi QIDA
3.    Cara Pemberian Skor
4.    Skala Kesulitan Hubungan Interpersonal Remaja
D.    Analisis Karakteristik Psikometri pada Skala dengan Menggunakan Teori Respon Aitem
E.     Hipotesis
BAB III METODE
A.    Subyek
B.     Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian
1.    Persiapan Skala
2.    Persiapan Izin Penelitian
3.    Pelaksanaan Penelitian
C.     Program Komputer yang Digunakan
D.    Analisis Data
1.    Analisis Korelasi Aitem-Total
2.    Analisis Faktor Konfirmatori
3.    Analisis Model Respon Bertingkat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Hasil
1.    Analisis Aitem Menggunakan Teori Tes Klasik
2.    Analisis Aitem Menggunakan Teori Respon Aitem
B.     Pembahasan
1.    Analisis Unidimensionalitas dan Kecocokan Model Teori Respon Aitem
2.    Evaluasi SKHIR dengan Model 5 Faktor
3.    Parameter Daya Beda Aitem
4.    Parameter Lokasi Aitem
5.    Fungsi Informasi
6.    Aitem-Aitem SKHIR yang Gugur
7.    Aitem-Aitem SKHIR yang Diterima
BAB V  KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN