Showing posts with label TESIS Profesi Psikologi Klinis. Show all posts
Showing posts with label TESIS Profesi Psikologi Klinis. Show all posts

PROSES TERBENTUKNYA RESILIENSI PADA WANITA KORBAN PERKOSAAN Suatu Pendekatan Studi Kasus

INTISARI
Penelitian ini difokuskan pada resiliensi wanita korban perkosaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus yang bertujuan untuk mengetahui proses perjalanan individu da lam memulihkan kondisi dirinya dari trauma akibat perkosaan, sehingga peneliti dapat menemukan dinamika psikologis korban perkosaan, yang secara spesifik diterjemahkan dalam tujuan khusus yaitu, memahami faktor-faktor penentu yang dapat menimbulkan resilie nsi pada wanita korban perkosaan, memahami proses terbentuknya resiliensi pada wanita korban perkosaan dan memahami strategi yang digunakan korban perkosaan dalam mengatasi permasalahan ini. [DOWNLOAD LENGKAP]
Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi untuk mengumpulkan data dari empat partisipan.

PELATIHAN MANAJEMEN STRES UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI REMAJA PENYINTAS GEMPA DAN TSUNAMI DI NANGGROE ACEH DARUSSALAM


1. METODE
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen  dengan desain randomized pretest-posttest control group design, yaitu partisipan akan dibagi secara acak dalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kontrol serta dilakukan pengukuran variabel tergantung sebelum dan sesudah perlakuan diberikan.
Variabel Tergantung : Resiliensi
Variabel Bebas : Pelatihan Manajemen Stres

2. PARTISIPAN PENELITIAN

Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini berjumlah 30 orang remaja berusia 16-18 tahun, baik laki-laki maupun perempuan yang mengalami peristiwa gempa dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam sertakehilangan orang tuanya. Calon partisipan diminta mengisi lembar biodata yang berisi beberapa aitem antara lain nama, tempat tanggal lahir, alamat, cita-cita, hobi, dan data keluarga yang meninggal saat tsunami. Seleksi partisipan juga dilakukan melalui observasi dan wawancara terhadap partisipan dan pihak sekolah. Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian juga merupakan rekomendasi guru di sekolah yang mengetahui perkembangan remaja tersebut. Partisipan penelitian terdiri dari partisipan uji coba modul pelatihan yang berjumlah 6 orang. Partisipan kelompok eksperimen berjumlah 15 orang dan kelompok kontrol berjumlah 15 orang. Kelompok eksperimen (KE)

KELOMPOK DUKUNGAN ORANGTUA UNTUK MENURUNKAN TINGKAT STRES ORANGTUA PASIEN KANKER ANAK


Oleh: Nurfitria Swastiningsih

Abstract
Having child with serious illness such as cancer led to the poor of family prosperity. Parents would have to deal with serious problems. This research aimed to find that support group for parents of children with cancer can be used to reduce the stres level towards the parents of children with cancer. Participants of this research Wet 7 parents of children with cancer. The research design is one group pretest-post test and follow-up repeated measurement design. Stress scale used to Measures parent’s stress level were given three times, before treatment as pre-test, Rafter treatments post-test and follow up measurement two weeks after post-test. The descriptive statistic measure showed the decreasing level of stress score from pretest to post-test. The Wilcoxon T-test showed the significant different of stres score between pre-test and post-test with Z = -2.375 and p = 0.009 (p<0.05). The results of the analysis showed that support group for parents with cancer Children decreased the stress level of the parents.
Key words : Stress, parents, support group, cancer children.

Pengantar
Penyakit kanker sudah cukup dikenal oleh masyarakat di Indonesia. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja baik lelaki maupun perempuan. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga memiliki risiko untuk mengidap penyakit kanker. Menurut catatan International Confederation of Childhood Cancer Parent Organizations (ICCCPO) diperkirakan jumlah anak penderita kanker di seluruh dunia berjumlah 250.000 anak atau sekitar 4 persen dari seluruh penderita kanker. Penderita kanker di Indonesia setiap tahunnya diperkirakan mencapai 100 penderita baru di antara 100.000 penduduk, sehingga dengan jumlah penduduk 200 juta, maka diperkirakan setiap tahunnya ditemukan sekitar 200.000 penderita kanker baru di Indonesia. Jumlah tersebut setiap tahun setidaknya ditemukan 4000 anak yang menderita kanker (“Kenali kanker”, 2002; “Pertahun di Indonesia”, 2002; “Mengapa kanker”, 2001).

Menurut Tehuteru (2005), seorang dokter spesialis anak di RS. Dharmais, jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada anak-anak adalah leukemia atau kanker darah, kemudian tumor otak, retinoblasma (kanker retina mata), kanker kelenjar getah bening, neuroblastoma, kanker ginjal, kanker otot dan kanker tulang (Siswono, 2004 & “Pertahun di Indonesia”, 2002). Penyakit kanker pada anak memberikan dampak yang cukup besar pada keluarga, terutama orangtua (Wong & Chan, 2006) yaitu pada kondisi fisik, psikis, dan sosial. Hasil penelitian Lähtenmäki, Sjöblom, Korhonen, dan Salmi (2004) terhadap orangtua pasien kanker anak menunjukkan bahwa para ibu merasakan kondisi
stres dan ketegangan yang sulit untuk ditoleransi, para orangtua menunjukkan kurangnya perhatian pada kesehatan pribadi, dan tugas rumah tangga menjadi terbengkelai. Dampak lain yang dirasakan cukup berat adalah pada kondisi perekonomian atau keuangan keluarga (Lavee & Dan, 2003). Orangtua merasakan banyaknya pengeluaran untuk pengobatan, rawat inap di rumah sakit, transportasi, makanan dan biaya lain sehingga beberapa orangtua harus meminjam uang untuk mencukupi kebutuhan tersebut (Dockerty, Skegg, dan Williams, 2003). Hal ini terjadi karena pendapatan keluarga menjadi jauh berkurang terutama pada bulan-bulan awal semenjak anak didiagnosis kanker (Lähtenmäki et al, 2004). Selain itu pada orang tua, dampak yang dirasakan tersebut cukup mempengaruhi banyak hal diantaranya adalah hubungan pernikahan terutama masalah kepercayaan, komunikasi, seksual (Lavee & Dan, 2003), serta munculnya tekanan terutama dalam peran dan pengasuhan anak (Young, Woods, dan Heney, 2002).

Data tersebut juga sesuai dengan yang diperoleh dari preliminary yang telah dilakukan oleh penulis dengan metode observasi dan wawancara pada tanggal 25 Mei – 6 Juni 2008 terhadap orangtua pasien kanker anak yang sedang mendampingi anak menjalani rawat inap di rumah sakit yaitu tiga orang ibu dan satu ayah serta petugas di ruang bermain anak. Ibu tersebut merasakan cukup tertekan semenjak mengetahui anaknya didiagnosis kanker.

PENURUNAN SIMPTOM DELUSI PADA PENDERITA SKIZOFRENIA PARANOID MELALUI PELATIHAN METAKOGNITIF

 Oleh: Menur Widilaksmi
ABSTRACT
Schizophrenia is a severe mental disorder that is characterized by a disturbance in thinking, perception, emotion, behavior, and communication. Disturbances in thinking can lead to false beliefs that cause the emergence of delusions . Delusions is quite prominent experienced by individual with paranoid schizophrenia disorder. Delusions associated with the inability to integrate the existing  perception with previous knowledge stored in memory.  Cognitive approach  involved metacognition that can overcome the problem of thinking disturbance in  schizophrenia disorder. Matacognition refers to people cognition about cognitive phenomena. The idea is that some cognitive states and processess. Metacognition is knowledge that concern with one’s own cognitive processes or anything related to them. This study used small N experiment with AB design. The data in this study were analyzed by using visual inspection supported by qualitative description. The results showed that metacognitive training can reduce the symptoms of delusions and enhance partisipant’s etacognitive skills. 
Key  words: delusion, metacognitive, paranoid schizophrenia

PENGANTAR
Skizofrenia adalah salah satu jenis dari gangguan psikotik.  Skizofrenia banyak ditemui dalam praktek klinis di rumah sakit jiwa.  Populasi skizofrenia di dunia sekitar 1% (Arnold & Trojanowski, 1996; Chumakov et al., 2002; Sharafi, 2005), sedangkan di Indonesia  diperkirakan ada satu orang dari setiap 1000 orang menderita skizofrenia ( “Jumlah  Penderita”,  2008).  Prevalensi skizofrenia hampir sama pada kelompok budaya yang berbeda (Chumakov et al., 2002) dan dapat terjadi pada setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan.
Gangguan skizofrenia  biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa awal.  Usia puncak  kemunculan skizofrenia pada laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun,  sedangkan pada perempuan adalah pada usia 25 sampai 35 tahun (Kaplan & Sadock, 1997). Kemunculan gangguan skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau sesudah 50 tahun adalah sangat jarang. Laki-laki lebih terganggu oleh gejala negatif daripada  perempuan dan  perempuan memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada laki-laki (Bennett, 2006; Daley & Salloum, 2001; Stirling & Hellewell, 1999). Oleh karena itu, wanita penderita skizofrenia akan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang lebih baik daripada laki-laki. 
Istilah skizofrenia pertama kali diperkenalkan oleh Emil Kraeplin dan Eugen Bleuler (Alloy, Riskind, & Manos, 2005; Kring, Davison, Neale, & Johnson, 2007). Kraeplin  (dalam Alloy,  et al., 2005)  menjelaskan  dementia praecox sebagai bentuk awal skizofrenia yang terdiri dari  beberapa konsep  diagnosis paranoid, katatonik, dan hebefrenik.  Selanjutnya Eugen Bleuler  (Kring, et al., 2007) menjelaskan gangguan itu sebagai schizophrenia, dimana schizein  berarti pecah atau kacau dan  phren yang berarti pikiran. Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya (Departemen Kesehatan R.I. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, 1993). Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang  dikarakteristikkan dengan adanya gangguan dalam berpikir, persepsi, emosi, perilaku, dan komunikasi (Alloy, et al., 2005; Halgin & Whitbourne, 2005; Kring, et al., 2006). Selain itu juga melibatkan gangguan dalam perasaan, motivasi, dan fungsi interpersonal (Halgin & Whitbourne, 2005).  Penderita skizofrenia biasanya akan menarik diri dari orang lain dan kehidupan nyatanya, bahkan mengarah ke fantasi hidup (Kring,  et al., 2007) Skizofrenia ada beberapa jenis, yaitu skizofrenia paranoid, skizofrenia hebefrenik, skizofrenia katatonik, skizofrenia simpleks ( Departemen Kesehatan R.I. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, 1993; Stirling & Hellewell, 1999), skizofrenia tak terinci, skizofrenia residual, skizofrenia lainnya, dan depresi pasca-skizofrenia  (Departemen Kesehatan R.I. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, 1993). Setiap jenis skizofrenia memiliki ciri-ciri yang menonjol dan berbeda satu sama lainnya. Skizofrenia paranoid setidaknya harus memiliki halusinasi dan atau waham yang menonjol, gangguan afektif atau dorongan kehendak serta pembicaraan. Skizofrenia hebefrenik antara lain memiliki gambaran khas adanya kecenderungan untuk selalu menyendiri, afek tidak wajar, cekikikan, senyum sendiri, serta pembicaraan yang tak menentu.
Skizofrenia katatonik antara lain didominasi oleh perilaku stupor (reaktivitas gerakan dan aktivitas spontan amat berkurang), gaduh-gelisah, menampilkan posisi tubuh tertentu, serta rigiditas atau kekakuan posisi tubuh. Skizofrenia tak terinci merupakan diagnosis yang diberikan ketika tidak ada kriteria yang dapat terpenuhi untuk skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau katatonik. Skizofrenia residual  dapat ditegakkan ketika gejala negatif masih menonjol, ada riwayat sedikitnya satu episode psikotik, dan melewati kurun waktu satu tahun.