Showing posts with label DISERTASI. Show all posts
Showing posts with label DISERTASI. Show all posts

BENTUK DAN FUNGSI SATUAN-SATUAN PINJAMAN DARI BAHASA INGGRIS PADA TEKS BERBAHASA INDONESIA DALAM RANAH OLAHRAGA

INTISARI

Penelitian  ini  bertujuan untuk  memaparkan: 1) satuan-satuan lingual dari bahasa Inggris yang digunakan dalam teks  bahasa Indonesia, 2) perubahan-perubahan bentuknya, 3) memaparkan  satuan-satuan lingual bahasa Inggris berdasarkan jenis olahraga 4) makna serta perubahan maknanya; dan  5) menjelaskan sebab-sebab satuan-satuan  lingual tersebut  digunakan  serta  fungsi-fungsi penggunaannya dalam teks bahasa Indonesia. Satuan-satuan bahasa Inggris diambil dari artikel olahraga dalam  suratkabar  berbahasa Indonesia tahun 2010 dan 2011, tiga buku berkaitan dengan olahraga, dan satu kamus istilah olahraga. Karena bentuk bahasa berkaitan erat dengan faktor internal bahasa itu sendiri dan faktor eksternal, data penelitian ini dianalisis secara deskriptif linguistik dan sosiolinguistik.

Homeland, Identity and Media: A Study of Indonesian Transnational Muslims in New York City

Abstract
This dissertation describes an attempt to understand the complex process of how Indonesian Muslims in New York City negotiate their cultural identities. This dissertation gravitates around the concept of transnationalism, which perceives that contemporary immigrants form and maintain multi-stranded social and cultural transnational links to the societies of the country of origin, chiefly thanks to advancement of media, communication and transportation technologies. Applying the non-obvious multi-sited ethnography approach (Marcus, 1999), I explore the dynamic process of how the deterritorialized Indonesians strive to reterritorialize their culture in the new cultural context, such as manifested in the establishment of the Indonesian mosque with its various Islamic activities and the reenactment of Indonesian cultural practices. Subsequently I explain how various forms of media are produced, circulated, and consumed in the Indonesian Muslim community.
The study concludes with several important points. First, media (ranging from the printed to electronic media to the Internet) have not played a central role, largely due to the small number of Indonesian Muslim community members. The negotiation of identity and transnational ties preservation take place in various forms of “smaller media,” such as personal videos and cassettes, photographs, the public gatherings of ethnic and religious associations. Second, instead of using Habermas’ (1989) unitary and singular public sphere, it is more useful to describe the sphere created by media and other venues as, following Gittlin (1989), multiple and fragmented public sphericules, in which the transnationals find their voice, maintain connection with the homelands, and express the struggle against marginalization. Third, the strength of the centripetal force of Indonesian and ethnic identities lead to my questioning of the heuristic ability of the widely used notion of hybridity. Lastly, I conclude that despite the centrality of ummah (the community of believers transcending nation-states and ethnicities) concept, currently it does not translate to a unified and solid sense of community among Muslims. Therefore I suggest that the possibility of the formation American Muslim identity depends on subsequent generations of Muslims.
Subject Headings
Mass Communications
Keywords
Transnationalism; Media and Identity; Multisited Ethnography; Indonesian Immigrants; Muslim Immigrants; New Your City

The dynamic relationship between culture and accounting: An empirical examination of the Indonesian setting

Abstract
This dissertation examines the relationships among the cultural characteristics of Indonesian society, financial reporting practices of Indonesian firms, and accounting standards promulgated by the Association of Indonesian Accountants. The examination covers the period between 1981 and 1992 and includes a sample of 108 financial reports of Indonesian firms. It is argued that an empirical relation exists between cultural values and accounting in Indonesia. Three related models are developed to capture the association between culture and accounting in Indonesia. The first model identifies significant cultural values present in Indonesian society. The second model relates accounting values and accounting practices in Indonesia. These two models are designed to test Hofstede's theory of the five dimensions of cultural values (power distance, uncertainty avoidance, individualism, masculinity, and time horizon) and Gray's four dimensions of accounting values (professionalism, conservatism, secrecy, and uniformity) as applied in Indonesia. We use results of these tests to construct the third model dealing with the relationships between cultural values and accounting values in the development of Indonesian accounting practices. Linear Struct ural Relations (LISREL) was used to test the validity of these models. Our findings suggest that while all four Gray's accounting values are confirmed in Indonesian accounting practices, four out of Hofstede's five dimensions of culture (excepting time horizon) are significantly apparent in Indonesian culture. We also find that while masculinity is a significant factor of Indonesian culture, it is not significantly related to any one of the four values of Indonesian accounting practices. In other words, three of Hofstede's five cultural values (power distance, uncertainty avoidance, and individualism) have significant relationships with one or more accounting value. Further examination reveals that the relations of these three cultural values with two of the accounting values, conservatism and unformity, confirm our hypotheses. Our results do not support the hypothesized relationships between these three cultural values and two other accounting values, professionalism and secrecy. We believe that conflicting influences of extensive government involvement in the economy and market competition on business decisions of Indonesian firms are a plausible explanation of these mixed results.
Keywords
dynamic relationship; culture; accounting; empirical examination; Indonesian setting

FAKTOR -FAKTOR KOGNITIF YANG MEMPENGARUHI KEMAMPUAN MEMBACA ANAK-ANAK KELAS 1 DAN 2 SEKOLAH DASAR



Oleh: Rahma Widyana

INTISARI
Penelitian ini menguji pengaruh faktor-faktor kognitif terhadap kemampuan membaca pada anak- anak dalam suatu model persamaan struktural. Korelasi antara pengukuran persepsi visual, kesadaran fonologis, pengetahuan semantik, memori kerja, memori jangka pendek dan metakognisi dengan performansi tes kemampuan membaca diuji dengan subjek anak-anak kelas 1 dan 2 sekolah dasar. Hasil penting dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca siswa kelas 1 dan 2 sekolah dasar sebesar 59,6% merupakan fungsi dari faktor- faktor kognitif. Faktor-faktor kognitif yang meliputi memori jangka pendek, memori kerja, persepsi visual, pengetahuan semantik, kesadaran fonologis dan metakognisi memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kemampuan membaca. Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah pengetahuan semantik dan selanjutnya diikuti memori kerja. Faktor kognitif yang berpengaruh langsung terhadap kemampuan membaca adalah metakognitif, sedangkan faktor kognitif yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap kemampuan membaca adalah faktor persepsi visual dan kesadaran fonologis. Hasil penelitian ini juga menguatkan hasil penelitian sebelumnya bahwa memori kerja dan memori jangka pendek selain berpengaruh terhadap kemampuan membaca juga berpengaruh terhadap faktor -faktor kognitif yang terkait dengan proses membaca. Memori kerja ini ditemukan berkorelasi dengan memori jangka pendek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecepatan membaca berkorelasi dengan pemahaman membaca.

ABSTRACT
This study examined the effect of the cognitive factors toward children’s reading ability on children using structural equation modeling. The correlations between visual perception, phonological awareness, semantic knowledge, working memory, short-term memory, and metacognition measures with reading performance were  examined for first and second grade students of elementary schools. The important result of this study was that 59,6% of reading ability on the first and second grade students of elementary schools constituted the functions of cognitive factors. The cognit ive factors such as short -term memory, working memory, semantic knowledge, and metacognition had both direct and indirect impact toward reading ability. The most influencing factors were semantic knowledge and working memory, respectively. The cognitive factor that directly influenced reading ability was metacognitive, and the cognitive factors that indirectly influenced reading ability were visual perception and phonological awareness. The results of this study also supported the previous research that wor king memory also influenced the other cognitive factors which were related to reading process. Working memory was found correlated to short-term memory. This finding showed that reading speed was correlated with reading comprehension.


KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca siswa kelas 1 dan 2 sekolah  dasar sebesar 59,6% merupakan fungsi dari faktor-faktor kognitif. Kemampuan membaca merupakan fungsi langsung dan tidak langsung dari faktor-faktor kognitif yang meliputi memori jangka pendek, memori kerja, persepsi visual, pengetahuan semantik, kesadaran  fonologis dan metakognisi. Dengan demikian hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.

Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah pengetahuan semantik dan selanjutnya diikuti memori kerja. Faktor kognitif yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kemampuan membaca adalah memori kerja, memori jangka pendek, dan pengetahuan semantik. Faktor kognitif yang berpengaruh langsung adalah metakognitif, sedangkan faktor kognitif yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap kemampuan membaca adalah faktor persepsi visual dan kesadaran fonologis. Hasil penelitian ini juga menguatkan hasil penelitian sebelumnya bahwa memori kerja dan memori jangka pendek selain berpengaruh terhadap kemampuan membaca juga berpengaruh terhadap faktor-faktor  kognitif yang terkait dengan proses membaca. Memori kerja ini ditemukan berkorelasi dengan memori jangka pendek. Hasil analisis tambahan menunjukkan ada korelasi antara kecepatan dan pemahaman membaca; dan tidak ada perbedaan kemampuan membaca siswa kelas 1 dan 2 sekolah dasar.

JUDUL-JUDUL DISERTASI AGAMA 61-80


  1. Hadis-hadis Maudhu' dalam Perkembangan Politik
  2. Pandangan Teologi Fazlur Rahman: Studi analisis Pembaharuan Teologi Noe-Moderenisme
  3. Pemikiran Kalam Ibn Qayyim al-Juziah
  4. Pemikiran Kalam Abdullah bin Nuh
  5. Metode Pemikiran Abu Hamid al-Ghazali dalam Teologi Islam
  6. Corak Pemikiran Teologi Mahasiswa : studi Kasus tentang Mahasiswa Aktivis Masjid Kampus Di Kota Madya Bandung
  7. Corak Pemikiran Klam Tafsir al-Azhar : Sebuah telaah Tentang Pemikiran Hamka dalam Teologi Islam
  8. Aliran Mu'tazilah dan Sumbangannnya Terhadap Pemikiran Islam
  9. Dimensi Budaya Kerja dan Faham Teologi : Hubungannya dengan Pendidikan dan Implikasinya Terhadap Manajemen Kerja
  10. Pemikiran Teologi Islam A. Hassan : Kajian Analisis Untuk Mengetahui Posisi Pemikiran Teologi Islam A. Hassan
  11. Pemahaman Syaekh Nawawi Tentang Ayat Qadar dan Jabar dalam Kitab Tafsirnya " Marah Labib" .: Suatu Studi Teologi
  12. Pemikiran Kalam Ibn rusyd
  13. Filsafat Ketuhanan Ibn Rusyd : Kritik terhadap Mutakalimin dan Falasifah tentang Konsep Ketuhanan
  14. Konsep Kekuasaan tuhan: telaah Tafsir
  15. Pemikiran Klam al-Baqillani : Studi Tentang Persamaan dan Perbedaaannya dengan al-Asy'ari
  16. Pemikiran Kalam Ibn Hazm al-Andalusi
  17. Pemikiran Kalam al-Juwaini
  18. Studi Tentang Corak Pemikiran Teologis Sayyid Quthb
  19. Sisi Kalam Dalam Pemikiran Islam Syaekh Abdurrahman Shiddq Al-Banjari
  20. Corak pemikiran Kalam tafsir al-Maraghi

JUDUL-JUDUL DISERTASI AGAMA 41-60

  1. Wawasan al-Qur'an tentang Shabr
  2. Pemahaman Hamka dan TM Hasbi Ash-Shidiqy Mengenai ayat Yang Berkaitan dengan Politik, Ekonomi, dan Ilmu Pengetahuan.
  3. Pemikiran Politik dalam Tafsir Fath al-Qadir
  4. Konsep Kemiskinan dan Mengatasinya Menurut al-Qur'an
  5. Takhrij Hadis-hadis dalam Kitab Fiqh as-Sunnah: Studi Tentang Kualitas Sanad Hadis Masalah Jual Beli, Makanan dan Pakaian
  6. Telaah Terhadap Kriteria al-Hakim dalam Mwnentukan Status Hadfis : Studi Literatur Dalam Ilmu hadis
  7. Pemikiran Muhammad Syuhudi Ismail Tentang Hadis Nabi
  8. Hadis-hadis dalam Daqoiq al-Tafsir Karya Ibn Taimiyah : Studi Terhadap Kualitas Sanad Hadis
  9. Riwayat Hadis "Taraktu Fikum": Kritik Sanad Hadis Serta Telaah Perbedaan Antara Kata " Ahl al-Bait dan Sunnah"
  10. Pemahaman Hadis Secara Kontekstual: Suatu telaah Terhadap asbab al-Wurud dalam Kitab Shahih Muslim.
  11. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: TelaahKritis dan Tomjauan Dengan Pendekatan Ilmu Sejarah
  12. Suatu Telaah Terhadap Hadis-Hadis Kitab al-risalah Imam Syafi'I (150-204)
  13. Telaah atas Sanad Hadis-hadis dalam Kitab I'anah al-Talibin: Studi Ttg Kualitas Sanad Hadis
  14. Hadis-hadis Pada Kitab Tafsir al-Zahra Hamka: Analisis Sanad Pada Ayat-ayat Hukum Bidang Perkawinan
  15. Al-Imam as-Syafi'i: metode Penyelesaian Hadis-hadis Mukhtalif
  16. Hadis-hadis Eskatologi Dalam L\Kitab Jami' al-Turmudzi: Studi Kritis Tentang Kualitas Sanad Hadis
  17. Hadis-hadis Taharah dalam Kitab Bidayah al-Mujtahid: Studi Kualiatas Hadis
  18. Al-Imam at-Tirmidzi, Perananya dalam pengembangan Hadis dan fiqh
  19. Hadis Dalam Pandangan Muhammad Rasyid Rida: Studi Tentang Nilai rijal Hadis Dalam Kitab Tafsir Al-Manar.
  20. Telaah Kritis Hadis-hadis Nikah Mut'ah di Dalam al-Kutub at=-Sittah

JUDUL-JUDUL DISERTASI AGAMA 21-40

  1. Kaidah-kaidah Bhasa Arab dan relavansinya dalam Memahami Ayat-ayat al-Qur'an
  2. Studi Kritis Terhadap al-Qur'an dan terjemahannya Departemen Agana Republik Indonesia
  3. Metode Penafsiran ayat-ayat yang Berdedikasi Mirip di Dalam al-Qur'an
  4. Perbandingan Tafsir antara al-Manar dan al-Kasyayaf: Tinjauan dari Corak dan Pandangan Teologis
  5. Orientasi Semantik al-Zamakhsyari dalam menafsirkan ayat-ayat Kalam
  6. Kaidah-kaidah al-Bayan dan Fungsinya dalam Tafsir al-Kasysyaf
  7. Hakekat Tafsir Tarjuman al-Mustafid Karya Syeikh Abdurrauf Singkel
  8. Aspek-aspek Islam Menurut Prespektif al-Qur'an
  9. Konsep din Dalam Qur'an
  10. Rasionalitas tafsir Syaikh Muhammad Abduh: Tinjauan terhadap Penafsiran Bidang Akidah dan Ibadah
  11. Konsepsi Jihad dalam al-Qur'an
  12. Konsep Khilafah dalam Tafsir Sayyid Quthb dan Tafsir Hamka
  13. Konsep Mal Dalam al-Qur'an
  14. Konsep Manusia Sebagai Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur'an
  15. Konsep Penciptaan Alam dam al-Qur'an
  16. Wawasan al-Qur'an tentang Ahli Kitab
  17. Konsepsi Ulama Menurut al-Qur'an
  18. Konsep al-walayat dalam al-Qur'an
  19. Konsep nafs dalam Qur.an: sebuah Kajian Tentang Nafs Dengan Pendekatan Tafsir Maudui'
  20. Konsep Nafs dalam Qur.an: sebuah Kajian Tematis Terhadap ayat-ayat Qur'an

JUDUL-JUDUL DISERTASI AGAMA 1-20

  1.  Konsep Manusia Menurut al-Ghozali Sebagai terkandung Dalam buku-buku filsafat dan Tasawuf complete file
  2. Filsafat Manusia dan Teori Implementasinya dalam Analisis Psikologi: studi perbandingan antara konsep ar-Razi dan S. Frued complete file
  3. Kritik Ibn Taimiyah terhadap Logika Aristoteles complete file
  4. Konsep Sembah dan Budi Luhur dalam Pemikiran Mangkunegara IV Surakarta Ditinjau dari Pandangan Islam complete file
  5. Agama Kaharingan dalam Kehidupan Suku Dayak di Kalimantan Tengah complete file
  6. Konflik dan Konformitas Antara Islam dan Kristen complete file
  7. Pelaksanaan Toleransi beragama dalam Masyarakat To Dolo dan Masyarakat Islam di Toraja complete file
  8. Pembaharuan Pemikiran Hamka dalam Bidang Aqidah, tasawuf dan Sosial Politik complete file
  9. Pemikiran Keislaman Yoesoef Sou'yb. complete file
  10. Majmu'at al-sayari'at al-kafiyat li al-'awam, Karya Syaikh Muhammad Shalih ibn Umar al-Samarani. complete file
  11. Kemitra sejajaran Pria dan Wanita Dalam Prespektif Islam.complete file
  12. Khalifah Menurut rasyid Rida dan Relevansinya Dengan Masyarakat Islam Modern.complete file
  13. Sistem Otoritas dan Administrasi Islam di Palembang: Studi Tentang Pejabat Agama di masa Kesultanan dan Masa Kolonial.complete file
  14. Konsepsi Kekuasaan Politik dalam al-Qur'an.complete file
  15. Pengamalan Piagam Madinah dan UUD 1945: Kajian Perbandingan tentang Dasar hidup Bersama dalam Masyarakat Islam Yang Majemuk. complete file
  16. Politik Islam Pemerintahan Hindia Belanda: Het Kantoor Voor Inlandsche Zaken.complete file
  17. Pariwisata Dalam Prespektif Islam. complete file
  18. Metode Penalaran Ilmiah dalam al-Qur'an. complete file
  19. Hubungan sebab Antara Turunnya Ayat Qur'an dan Adat Kebiasaan dalam Tradisi Kebudayaan Arab Jahiliyah. complete file
  20. Memahami ajaran Pokok Islam dalam al-Qur'an Melalui Kajian Semantik complete file

TINJAUAN TERHADAP PENAFSIRAN AYAT-AYAT KINĀYAH DALAM AL-QURĀN


Kinâyah merupakan salah satu aspek kajian ilmu balaghah, tepatnya ilmu bayan. Selain kinâyah ada dua aspek lainnya yang mempunyai hubungan sistematis dengan kinâyah, yaitu tasybîh  dan majâz. Berbeda dengan tasybîh dan majâz, kinâyah merupakan suatu pengungkapan yang pengertiannya bersifat polisemi, bisa bermakna denotatif (haqiqi) dan bisa juga bermakna konotatif (majâzi).  
Dalam kajian ilmu tafsir uslûb  kinâyah merupakan  salah  satu  tema  yang  sangat  pelik  dan sering menimbulkan kontroversi dalam penafsiran  al-Qurân  di kalangan para ulama. Perbedaan penafsiran tersebut muncul karena secara teoritik wacana kinâyah bisa ditafsirkan secara haqiqi (denotatif) maupun majâzi (konotatif). Selain itu pula, masing-masing dari ulama yang berbeda pendapat tersebut sama-sama mempunyai argumen, baik dari al-Qurân maupun al-Hadits.
Untuk itu diperlukan tinjauan lain yang dapat memberikan kejelasan tafsir yang sesungguhnya. Tinjauan lain yang akan dicoba oleh peneliti adalah tinjauan dari aspek  balaghah. Jika masing-masing madzhab sulit dipertemukan karena masing-masing mempunyai sandaran yang  sama kuatnya, maka bagaimana ilmu balaghah melihat jenis ayat-ayat ini. Bagaimana ungkapan-ungkapan kinâyah digunakan dan ditafsirkan dalam praktek berbahasa pada umumnya. Apakah  mengambil makna konotatif atau denotatif?
Rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dilihat sbb:1) Bagaimana penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat kinâyah?; 2) Apa yang melatarbelakangi perbedaan para mufassir dalam memahami ayat-ayat kinâyah?; 3) Tema-tema apakah yang disepakati penafsirannya oleh para mufassir; dan tema-tema apa saja yang tidak disepakati oleh mereka?; 4) Bagaimana implikasi  perbedaan penafsiran terhadap pemaknaannya dalam aspek hukum?
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan  linguistik stylistik. Peneliti mencoba melihat ayat-ayat ini dari aspek linguistik dan balaghah  (stylistik). Bagaimana hakikat dan maksud penggunaan ungkapan-ungkapan kinâyah dalam bahasa Arab pada umumnya.  
Hasil dari penelitian ini menunjukkan hal-hal sbb: 1) Konsep kinâyah dalam wacana ilmu kebahasaaraban mengalami perubahan, sejak masa Abû Ubaida-Bapak ilmu balaghah-sampai  kepada masa Abd al-Qâhir al-Jurzâni dan  masa-masa berikutnya.  Istilah  kinâyah digunakan mulai  dari makna dlamîr, kemudian berkembang menjadi irdâf, badal, majâz; sebagai lawan kata dari makna sharîh; dan akhirnya  sampai kepada makna  seperti  yang  kita  fahami  dalam  ilmu  balaghah sekarang ini; 2) Penetapan status suatu ayat sebagai ayat yang menggunakan uslûb kinâyah oleh seorang mufassir kadang-kadang berbeda dengan mufassir lainnya. Wahbah az-Zuhaili menyebutkan terdapat tujuh puluh satu ayat kinâyah dalam al-Qurân. Sedangkan ash-Shâbûni menyebut  sebanyak enam puluh empat ayat kinâyah di dalam al-Qurân. Sedangkan hasil dari penelitian ini secara keseluruhan berjumlah 77 ayat  yang tersebar  pada 28 juz dan 42 surat. Sedangkan ungkapan kinâyah secara keseluruhan berjumlah 84 ungkapan; 3) Dari ayat-ayat al-Qurân yang dikategorikan sebagai ayat kinâyah sebagian besar disepakati pemaknaannya, sedangkan sebagian kecil tidak disepakati yaitu pada ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum; 4)  Perbedaan penafsiran  pada  ayat-ayat  kinâyah  disebabkan  karena perbedaan  pengambilan  dalil-dalil serta adanya kelenturan uslûb  kinâyah alam semantiknya; 5) Perbedaan penafsiran para ulama pada ayat-ayat kinâyah mempunyai implikasi yang signifikan terhadap maknanya; 6) Berdasarkan kelaziman penggunaan uslûb kinâyah dalam praktek berbahasa, maka ayat-ayat kinâyah  mesti  dimaknai secara konotatif.

KEGAGALAN REGIME NEGOSIASI FINAL PEACE AGREEMENT 1996 DALAM PELEMBAGAAN PENYELESAIAN KONFLIK MINDANAO

ABSTRACT
Mindanao’s Conflict has been one of conflicts that notoriously perpetuated and unresolved. Negotiation regime of Final Peace Agreement 1996 – between the government of the Philippines under Fidel Ramos’s administrative regime and MNLF with the leadership of Nur Misuari – has been presumably, by many scholars, a regime that acquainted with the features of resolving the conflict of Mindanao. Nevertheless, such negotiation regime of Final Peace Agreement 1996 remains failed to overcome the Mindanao’s conflict. In this dissertational research, the writer exemplified instrumentalist approach in order to comprehensively analyze underlying factors of the negotiation regime of Final Peace Agreement 1996. Explaining the influential features of negotiation instrumentation to the regime’s incompetency in the context of conflict resolution in Mindanao, the writer argues that negotiation instrumentation has been understood as consequential strategy to overcome the problematic of actor’s legitimacy and conflict of Mindanao simultaneously. The negotiation instrumentation by particular actors, however, gives shape to the option of the negotiation regime and the compromising notion focusing more on underscoring the resolution of actors problematic rather than the deep-rooted problems of the Mindanao’s conflict. The research used qualitative research methodology with case study as the ultimate strategy. Technique of collecting data was undertaken with in-depth interview to several stakeholders in Mindanao’s conflict, negotiation practitioners as well as previous researchers whose competencies and specializations in this discourse. Besides, the research also underscored a series of interpretations of numerous documentations during negotiation process such as Tripoli Agreement 1976, Jeddah Accord 1987, Final Peace Agreement 1996, and Republic Act 9045. 
Key words: negotiation regime, conflict resolution, elite’s legitimacy, negotiation instrumentation.

INTISARI
Konflik Mindanao merupakan salah satu konflik yang sampai saat ini belum dapat terselesaikan. Regim Negosiasi Final Peace Agreement 1996 antara Pemerintah Filipina di bawah pemerintah Fidel Ramos dan MNLF di bawah pimpinan Nur Misuari difahami banyak kalangan sebagai salah satu regim negosiasi yang berkarakter untuk menyelesaikan konflik Mindanao. Namun regim negosiasi Final Peace Agreement 1996 ternyata juga gagal menyelesaikan konflik Mindanao. Dalam riset disertasi ini, penulis melakukan analisis terhadap factor-faktor yang menyebabkan regim negosiasi Final Peace Agreement 1996 dengan menggunakan pendekatan instrumentalis. Untuk menjelaskan pengaruh instrumentasi negosiasi terhadap kegagalan regim negosiasi dalam penyelesaian konflik Mindanao, penulis membangun argument bahwa instrumentasi negosiasi difahami sebagai strategi penyelesaian problem legitimasi actor dan problem konflik Mindanao secara simultan. Namun instrumentasi negosiasi oleh actor secara sefihak justru mengakibatkan pilihan regim negosiasi dan pilihan kompromi lebih mengfokuskan penyelesaian problem dari actor dibandingkan penyelesaian persoalan konflik Mindanao. Riset disertasi menggunakan metode penelitian kualitatif dan strategi penelitian studi kasus. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam terhadap stakeholder konflik Mindanao, praktisi negosiasi, maupun peneliti yang memiliki kompetensi di dalam diskursus ini. Di samping itu penelitian ini juga melakukan interpretasi terhadap dokumen-dokumen negosiasi dalam menyelesaikan konflik Mindanao seperti Tripoli Agreement 1976, Jeddah Accord 1987, Final Peace Agreement 1996, maupun Republic Act 9045.

EFEKTIVITAS PROGRAMPSIKOLOGIS “ASA” TERHADAP KETAATAN MINUM OBAT DAN KADAR INTERFERON GAMMA (IFN-γ) PENDERITA TUBERKULOSIS

Intisari
Ketaatan sangat penting dalam pengobatan TB. Kebosanan meminum obat dan pelayanan yang kurang prima terhadap para penderita TB dapat mempengaruhi proses penyembuhan. Angka kesembuhan TB di Jawa Tengah yang masih di bawah
standar nasional menunjukkan adanya permasalahan, baik dari sisi medis,
imunologis dan psikologis pada pasien.
Program Psikologis ASA yang merupakan gabungan Psikoterapi
Transpersonal dengan Ketrampilan Konseling Interaktif (KKI) dikembangkan untuk
ketaatan minum obat pada penderita TB. Program Psikologis ASA mempunyai
keunggulansebagai tindakan preventif, promotif dan kuratif dengan basis psikoterapi
transpersonal dan pemberdayaan masyarakat untuk menyempurnakan program
AKMS yang telah ada.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas Program Psikologis ASA
terhadap Ketaatan, Efikasi Diri, Komitmen Kesehatan sertakadarsitokin IFN-γsebagai
salah satu penanda imunitas tubuh.
Eksperimen Semu dengan non equivalent control group design diterapkan
terhadap 63 orang penderita TB yang terbagi menjadi 31 orang pada kelompok
eksperimen yang meneruskan pengobatan di BKPM Semarang, serta 32 orang pada
kelompok kontrol yang melanjutkan pengobatan ke Puskesmas. Kelompok
Ekperimen diberi tambahan Psikoterapi Transpersonal dan Konseling Interaktif,
sedangkan kelompok kontrol hanya diberi terapi sesuai anjuran petugas kesehatan
dengan sistem DOTS.Analisis Regresi Berganda dengan metode stepwise untuk
melihat variabel prediktor yang paling efektif mempengaruhi dependent variabel.
Analisis kualitatif dilakukan untuk mengeksplorasi pengetahuan, sikap dan praktek
subjek terhadap penerapan Program Psikologis ASA
Pengaruh langsung Program Psikologis ASA terhadap ketaatan meminum
obat (B=0,255,p=0,044), dan penurunan IFN-γ pada post testsebesar -0,316pg/mL
serta berpengaruh positif pula terhadap peningkatan Efikasi Diri khususnya pada
mastery (B = 0,301).Komitmen Memotivasiadalah variabel yang berpengaruh sangat
bermakna terhadap penurunan kadar IFN-γ sebanyak -0,362pg/mL (t=-3,031,
p=0,004). Artinya semakin sering pasien memotivasi pasien lain untuk meminum obat
tanpa, maka semakin tinggi penurunan kadar IFN-γyang dihasilkan.
Kesimpulan dan rekomendasi Pemberian Psikoterapi Transpersonal dan
pemberdayaan pasien melalui metode KKI penting untuk meningkatkan ketaatan,
efikasi diri serta komitmen terhadap kesehatan dalam proses penyembuhan penyakit
Tuberculosis.
Kata kunci : ketaatan, IFN-γ, efikasi diri, komitmen, transpersonal,Tuberculosis.

Abstract
Drug compliance isthe most important role on TB management. Boredom in
taking medicines and anxiety toward health care staffs has showed less prime
services for Tuberculosis patients. Cure Rate below the national standard indicates
problems in medical, immunological, and psychological perspectives among patients.
ASA Psychological Program approach through the use of Interactive
Counseling Skill (ICS) was innovated for TB patients. It is expected an improvement
on Self-Efficacy and Health Commitment also reducing of IFN-γlevel.
The aim of this research is to identify the effectiveness ofASA Psychological
Program toward Compliance, Self-Efficacy, Health Commitment and IFN-γactivation.
Using Quasi Experimental on non equivalent control group design was
assigned to 63 TB patients divided into 31 of experimental group who visited and
continued their treatment at BKPM Semarang, and other 32 of control group who
continued their treatment at Puskesmas. ASA Psychological Programwas assigned
to the Experimental Group to improve self-efficacy and commitment, while control
group was merely assigned with DOTS system therapy.Multiple Regression with
stepwise method was used to find the most effective predictor variable toward
dependent variable.Qualitative analysis also used for exploring subject’s knowledge
attitude and practice about the implementation of ASA Psychological Program.
The effect of ASA Psychological Programis significantly affected to the
compliance (B=0,255,p=0,044) and decreasing IFN-γ level on -0,316pg/mL and
improving of health commitment (B=0,689)also mastery (B = 0,301). The ability on
explaining about TB disease to the other patients (B=0,717) is higher than the effect
of the ability to motivate (B=0,589). Self efficacy on mastery and commitment to
motivate are the best predictors in decreasing the level of IFN-γ. The more the
patients gained the skill to motivate the others patients to be aware on TB disease,
the more decreasing on IFN-γlevel are. This study shows decreasing in -0,362 pg/mL.
Emotion precisely influence toward the commitment to motivate, that will influence to
the immunity of the body.
Conclusion and recommendation of this study is there was strong relationship
between psychological factors and immune system. Combination of Transpersonal
therapy and using ICS method as ASA Psychological Programis important to
accelerate the recovery process of Tuberculosis disease and completing DOTS
method.
Keywords: compliance, IFN-γ, self efficacy, commitment, Tuberculosis