Showing posts with label TESIS PROFESI PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Show all posts
Showing posts with label TESIS PROFESI PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Show all posts

EFEKTIVITAS PROGRAM PELATIHAN “GURU PEDULI” GUNA MENGURANGI BULLYINGDI SEKOLAH DASAR


Abstract
This study investigates one strategy to reduce bullying in elementary school, “Guru Peduli”, by way of an training for teacher. This training wanted to increase teachers’ awareness, knowledge, and skills to prevent and reduce bullying. The aim of this quasi experimental research was to test the effectiveness of “Guru Peduli” training for reducing elementary school bullying. Two elementary school were assigned to an experiment or control group. Six classes for class observation and six location for playground observation were observed either before and after the training. The data was analyzed with Wilcoxon Signed- Rank and Mann-Whitney test. The data showed that there was a significant difference of bullying between experimental and control school. There was also a significant bullying reduction in experimental school after the training.
Keywords: bullying, “Guru Peduli” training, teachers’ knowledge and skill DOWNLOAD PDF

PELATIHAN ‘KOMUNIKASI EMPATIK’ UNTUK MENINGKATKAN MANAJEMEN KELAS DI SEKOLAH DASAR


ABSTRACT
Verbal abuse is one of the teacher’s responses in classroom when students show a poor academic performance. In the context of teaching, teacher’s verbal abuse is a classroom management problem. Classroom management includes teacher’s action to create a positive social interaction environment, to involve student actively in learning process, to increase student self-concept, and to develop student motivation. The objective of this study was to examine the effect of ‘Komunikasi EMPATIK’ training for increasing the classroom management. This study was a quasi experiment with one-group pretest -posttest design. ‘Komunikasi EMPATIK’ training was the independent variable and classroom management was the dependent variable in this study. Seven classroom teachers in one elementary school in Bantul was assigned to this study. Participants’ behavior related to classroom management was observed using classroom management observation guidelines. The data was analyzed quantitatively with Wilcoxon Signed-Rank Test and qualitatively by examined the observation result either before, right after, and 3 -4 weeks after the training. Classroom Management Scale was given before and after the training as a secondary data. The result showed that ‘Komunikasi EMPATIK’ training could increase classroom management score. Although the score was not stable in 3  -4 weeks after the training, which indicated that the training  effect was not endure, ‘Komunikasi EMPATIK’ training could reduce negative classroom management behavior especially in teacher’s verbal abuse.
Keywords: verbal abuse, ’Komunikasi EMPATIK’ training, classroom management

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan kelemahan yang dimiliki oleh  penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pelatihan ’Komunikasi EMPATIK’dapat meningkatkan skor manajemen kelas (domain  menciptakan lingkungan belajar yang menarik dan kondusif-interaksi sosial yang positif serta terciptanya kenyamanan dan keamanan kelas-menurunkan kemunculan perilaku negatif dari guru). Ini berarti bahwa pelatihan tersebut dapat meningkatkan interaksi sosial yang lebih baik antara guru dengan siswa dan menurunkan kemunculan perilaku negatif dari guru, terutama kekerasan verbal. Mengacu pada pendapat Silberman (1998) yang mengatakan bahwa efektivitas suatu pelatihan dapat dilihat dalam rentang waktu 3-4 minggu setelah dilakukannya pelatihan, maka pelatihan ini kurang efektif, karena  perubahan perilaku yang terjadi sebagai efek dari pelatihan tidak dapat bertahan hingga 3-4 minggu(satu bulan) setelah pelatihan.  Hal ini disebabkan oleh:

PELATIHAN KETRAMPILAN MEMBACA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MEMBACA SISWA


Oleh: Nurul Fitria Kumala Dewi
Abstract
Reading is a thinking process of understanding a reading material. The purpose of this study is to find out the effect of reading skill training on reading comprehension ability of elementary school (ES) students with reading comprehension difficulties. The measurement of reading comprehension was done to eight ES students of grade4th divided into experimental and control groups. The characteristics of subject in the study were students with average and high average intelligence, academic scores below average and reading comprehension difficulties. The study used method inspired by the read well program that was applied using tutoring and repetetion methods, given to small groups, used the guiding questions, and involving picture media. Hypothesis proposed in the study was that the reading skill training can improve the reading comprehension of ES students with reading comprehension difficulties. The design of this study was untreated  control group design with dependent pretest and post test sample using switching replication. The analysis with Mann-Whitney U-test showed that reading skill training significantly improve the reading  comprehension ability of ES students of  grade  4th with reading comprehension difficulties (z=-2.381, p<0.05 dan z=-2.352, p<0.05) . Result of the measurement indicates that the reading skill training given for 16 sessions could improve the reading comprehension.
Keywords: reading comprehension ability, reading comprehension difficulties, reading skill Training

PENGANTAR
Membaca, menulis dan matematika adalah ketrampilan dasar yang harus dimiliki dan dikuasai oleh anak sekolah dasar. Anak usia 6 sampai 12 tahun berada pada  masa sekolah karena pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohaninya sudah cukup matang untuk menerima pengajaran (Ross, Marshall dan Scott, 1992). Permasalahan yang sering terjadi pada anak usia sekolah adalah kurangnya anak menguasai ketrampilan dasar, diantaranya adalah ketrampilan membaca. Ketrampilan membaca dapat dijadikan indikator keberhasilan dalam pendidikan. Hal tersebut dikarenakan membaca merupakan alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan. Membaca merupakan sebuah jembatan bagi siapa saja dan dimana saja yang berkeinginan meraih kemajuan dan kesuksesan di dunia sekolah maupun kerja. 

Fakta yang ditemukan  pada kegiatan praktek kerja profesi bidang psikologi pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) antara tahun 2001-2009 (Mustika, 2001; Setyowati, 2002; Fitriani, 2003; Hairiyah, 2003; Fitria, 2009; Wulansari, 2009) adalah adanya siswa di kelas 1 sampai kelas 5 yang mengalami permasalahan membaca. Mereka diantaranya belum lancar membaca, belum dapat memahami bacaan yang dibacanya dan belum memiliki kemampuan membaca sesuai dengan usia di tahap perkembangan  membacanya. Hal tersebut memberikan dampak pada performansi akademik yang rendah.

Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa dari 3.215 siswa kelas 1 hingga kelas 6 SD di DKI Jakarta, terdapat 16,52% siswa yang dinyatakan sebagai siswa yang mengalami permasalahan dalam membaca oleh guru (Abdurrahman, 1999). Siswa yang bermasalah dalam membaca yang termasuk dalam penelitian tersebut antara lain, siswa yang belum mengenal huruf, belum dapat mengeja kata, belum lancar membaca, dan belum dapat memahami bacaan. Hasil wawancara pada 4 orang guru dari 3 SD di kecamatan Ngaglik dan Depok, kabupaten Sleman pada awal tahun 2010 diperoleh data bahwa, dalam kurun waktu 2 sampai 3 tahun terakhir terdapat siswa yang memiliki permasalahan membaca dengan persentase antara 20% sampai 30% di setiap kelas 1 sampai kelas 4. Rata-rata kesulitan yang dialami oleh siswa adalah belum mampu mengenal huruf, mengeja kata-kata, belum lancar membaca sampai belum dapat memahami  isi bacaan yang dibacanya.  Hasil penelitian yang dilakukan Warsono (1998) mengenai profil kemampuan membaca siswa SD kelas 4 dan 5 pada 15 SD Negeri di Jawa Tengah menunjukkan bahwa secara keseluruhan hasil skor membaca pemahaman siswa termasuk kategori rendah.

Berdasarkan wawancara dengan 6 guru SD di kecamatan Ngaglik dan Depok, kabupaten Sleman pada bulan Februari-Maret 2010 terungkap fakta bahwa guru seringkali menganggap siswa di kelas 1-2 yang mengalami permasalahan membaca, yaitu belum lancar membaca adalah hal yang wajar. Guru mulai menganggap anak bermasalah pada tingkat kelas yang lebih tinggi, yaitu kelas 3-5 apabila belum dapat memahami bacaan yang dibacanya. Menurut guru,  hal ini dapat dilihat ketika anak seringkali gagal dalam menjawab pertanyaan yang terkait dengan isi bacaan dan tidak bisa mengikuti pelajaran yang memerlukan kemampuan untuk memahami isi pelajaran tersebut. Hal tersebut turut menghambat kegiatan belajar di dalam kelas, karena guru harus mengulang-ulang materi, pertanyaan maupun perintah agar anak memahami materi yang disampaikan guru sehingga berdampak pada hasil akademik anak menjadi kurang optimal.

KOMPETENSI GURU MENGIMPLEMENTASIKAN THE ANTI BULLYING AND TEASING PROGRAM FOR PRESCHOOL CLASSROOM COMMUNITY THEME


INTISARI
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh pelatihan The Anti Bullying and Teasing Program for PreschoolClassroom Community Themeuntuk meningkatkan kompetensi Guru mengimplementasikan program. Seluruh Guru di salah satu Taman Kanak-kanak di Sleman akan dilibatkan dalam penelitian ini. Kriteria Guru yang akan dilibatkan adalah menyetujui secara tertulis untuk melaksanakan keseluruhan rangkaian program, serta menyetujui secara tertulis untuk tidak menerapkan program lain yang sejenis di kelas mereka. Penelitian ini menggunakan one-group pretest-posttest design. Kompetensi Guru dalam mengimplementasikan program akan dibandingkan sebelum dan sesudah pelatihan.Knowledge Guru terhadap program diukur menggunakan skala, sedangkan  performance  Guru diukur melalui observasi perilaku. Performance Guru dalam menerapkan prosedur aktivitas juga akan dilihat pada proses monitoring selama pelaksanaan aktivitas di kelas beserta skala adherence. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan kompetensi Guru dalam mengimplementasikan program pada saat sebelum dan sesudah pelatihan.

Kata Kunci : Program The Anti-Bullying And Teasing, Kompetensi guru mengimplementasikan program, Taman Kanak-kanak
Kesimpulan
PelatihanThe Anti Bullying and Teasing Program for Preschool Classroom: Community Thememenimbulkan perubahan terhadap kompetensi Guru dalam mengimplementasikan program tersebut. Hal ini terlihat pada adanya perubahan pada kompetensi kriteria knowledge, yaitu adanya perubahan skor pengetahuan dan pemahaman guru mengenai program. Adanya perubahan pada kompetensi guru kriteria performance juga semakin mendukung hasil yang didapatkan. Keterampilan Guru dalam mengimplementasikan program berubah meningkat dari saat sebelum pelatihan ke saat sesudah pelatihan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pelatihan tersebut, Guru siap dan memiliki kompetensi untuk mengimplementasikan program.

Saran
Modul Pelatihan The Anti Bullying and Teasing Program for Preschool Classroom Community Themetelah terbukti mampu berkontribusi untuk meningkatkan kompetensi Guru dalam mengimplementasikan program. Modul pelatihan ini dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman Guru mengenai bullying, apa saja strategi-strategi penanganannya di kelas serta aktivitas-aktivitas yang dapat diterapkan untuk menciptakan kelas yang peduli, kekeluargaan dan bebas dari bullying. Namun demikian, penelitian ini memiliki kelemahan dari segi metodologi penelitian yang dapat berpengaruh pada generalisasi hasil penelitian. Oleh karena itu perlu adanya pengembangan program dan penelitian lebih lanjut agar modul ini dapat dipergunakan secara luas. Peneliti selanjutnya disarankan untuk memperbanyak jumlah subjek, menggunakan kelompok kontrol dan menggunakan follow-up yang terukur. Selain itu, modul pembekalan perlu dilengkapi dengan role-play untuk meningkatkan keterampilan dalam melaksakan program.Dengan demikian, diharapkan program pembekalan dapat diharapkan untuk memberikan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan kompetensi Guru dalam mengimplementasikan program.
FILE LENGKAP Download DI SINI