ABSTRACT: Background: World Health Organization estimates that the world's neonatal
mortality rate has reached 298,000 or 49 per 1000 live births; Some causes of
neonatal death are infections (36%), therefore, nurses’ knowledge and skills on
the prevention of infection need to be improved in order to suppress the
incidence of neonatal infection and deaths.
Objective: Improving Nurses’ Ability in Preventing the Infection of ‘Nosokomial’
to Infants through Trainings of Preventing Infection in the NICU of Wates District
Hospital, Kulon Progo.
Methods: This was an applied study using an Pre experimental study design and
One Group pre and post design. The study sites were in the NICU of Wates
District Hospital, Kulon Progo, with study subjects as many as 15 nurses.
Results: Of the Preintervensi, the subjects’ characteristics based on the
education were 14 people (93.33) while the practice mean value was 15.40 and
standard deviation was 4.37. After being given treatment in the form of training,
the most common practice done was to wear gloves as many as 11 people
(73.33%) and the least done was to wash hands as many as 9 people (60%). The
highest improvement aspect was the aspect of processing used tools with a
mean difference value of the Preintervensi and the second week Postintervensi
as much as 4.46 and the lowest improvement aspect was the aspect of handwashing
with a mean difference in Preintervensi and the second week
Postintervensi as much as 0.73. The value of infection prevention practices
according to the standard in general presented an increase from 0% in the
Preintervensi to 53.33% (8 people) in the first week Postintervensi and 46.67% (7
people) in the second week Postintervensi.
Conclusion: Training on the prevention of nosocomial infection effectively
improved nurses’ practice skills in the prevention of nosocomial infections in
accordance with the standard.
KAMI MEMILIKI FILE FORMAT PDF LENGKAP DARI ABSTRAKSI SAMPAI DAFTAR PUSTAKA. FREE!! Kami hanya menyediakan referensi berupa file-file skripsi yang sudah jadi, tidak sebagai plagiarisme namun digunakan sebagai bahan pengkajian, pembanding dan pengembangan dalam penulisan karya tulis ilmiah yang lebih baik.
Showing posts with label TESIS. Show all posts
Showing posts with label TESIS. Show all posts
Browse: Home /
TESIS /
TESIS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
/ ANALISIS PENERAPAN STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM PROPINSI SULAWESI TENGGARA
ANALISIS PENERAPAN STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM PROPINSI SULAWESI TENGGARA
ABSTRACT: Background: In this globalized era Sulawesi Tenggara Provincial Hospital
as a public health service institution is trying to improve quality of health
service including nursing service. Nurses have an important role in
providing quality public health service in hospital. Capability to provide
professional nursing care service according to nursing standard largely
depends on knowledge and motivation of nurses in implementing nursing
care standard in hospital.
Objective: To identify the implementation of nursing care standard at
inpatient ward of Sulawesi Tenggara Provincial Hospital and association
between knowledge, motivation and supervision function of head of the
ward and the implementation of nursing care standard at inpatient ward of
Sulawesi Tenggara Provincial Hospital.
Method: The study was quantitative with cross sectional design.
Population and samples of the study were all nurses at inpatient ward of
Sulawesi Tenggara Provincial Hospital. Data were obtained through
questionnaire and observation and analyzed using univariate, bivariate
with chi square statistical test, and multivariate with logistic regression.
Result: The implementation of nursing care standard at inpatient ward of
Sulawesi Utara Provincial Hospital was inadequate. There was no
association between knowledge and the implementation of nursing care
standard; there was association between motivation and the
implementation of nursing care standard, and there was association
between supervision function of head of the ward and the implementation
of nursing care standard. Supervision function of head of the ward was the
most dominant variable in the implementation of nursing care standard.
Conclusion: There was no association between knowledge and the
implementation of nursing care standard; there was association between
motivation and the implementation of nursing care standard, and there
was association between supervision function of head of the ward and the
implementation of nursing care standard.
INTISARI: Latar Belakang: Rumah Sakit Umum Propinsi Sultra sebagai suatu
institusi pelayanan kesehatan masyarakat, dalam era globalisasi berusaha
meningkatkan kualitas mutu pelayanan kesehatan termasuk pelayanan
keperawatan. Tenaga perawat mempunyai kedudukan penting dalam
menghasilkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kemampuan
memberikan pelayanan asuhan keperawatan secara profesional sesuai
standar keperawatan sangat tergantung pada bagaimana pengetahuan,
motivasi kerja perawat rumah sakit dalam menerapkan standar asuhan
keperawatan di rumah sakit.
Tujuan penelitian: untuk mengetahui penerapan standar asuhan
keperawatan di ruang rawat inap RSU Propinsi Sultra dan mengetahui
hubungan pengetahuan, motivasi kerja dan fungsi supervisi kepala
ruangan terhadap penerapan standar asuhan keperawatan di ruang rawat
inap RSU Propinsi sultra.
Metode penelitian: Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan rancangan
cross sectional. Sampel penelitian ini menggunakan totally sampling
dimana keseluruhan populasi perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit
Umum Propinsi Sultra dijadikan sampel. Penelitian ini menggunakan
kuesioner sebagai alat pengumpul data dan observasi yang kemudian
dianalisa secara univariat, bivariat dengan menggunakan uji statistik chi
square, multivariate dengan regresi logistik.
Hasil: Penerapan standar asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSU
Propinsi Sultra masih kurang. Tidak ada hubungan antara pengetahuan
dengan penerapan standar asuhan keperawatan, ada hubungan antara
motivasi dengan penerapan standar asuhan keperawatan, dan ada
hubungan antara fungsi supervisi kepala ruangan dengan penerapan
standar asuhan keperawatan. Fungsi supervisi kepala ruangan
merupakan variabel yang paling dominan dalam penerapan standar
asuhan keperawatan
Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan
penerapan standar asuhan keperawatan, ada hubungan antara motivasi
dengan penerapan standar asuhan keperawatan, dan ada hubungan
antara fungsi supervisi kepala ruangan dengan penerapan standar asuhan
keperawatan.
Labels:
TESIS,
TESIS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
Browse: Home /
TESIS
/ ADHESI KERATINOSIT KULIT MANUSIA PADA PLASTIK CLING WRAP BERLEM FIBRIN DAN BERLEM GEL PLATELET-RICH PLASMA (PRP)
ADHESI KERATINOSIT KULIT MANUSIA PADA PLASTIK CLING WRAP BERLEM FIBRIN DAN BERLEM GEL PLATELET-RICH PLASMA (PRP)
ABSTRACT: Cling wrap has properties similar to Tegaderm™, an expensive band-aid that
has been used as a transport membrane of keratinocytes. PRP gel and fibrin glues are
proved to be useful as the cellular adhesive on cellular transplantation. We
hypothesized that either PRP gel or fibrin glues can enhance plastic-keratinocytes
adhesion and can be used as a replacement material for Tegaderm™.
In order to have an evidence of our hypothesis, an invitro study was designed
to determine passage 2 human keratinocytes adhesion on cling wrap and compared to
Tegaderm™. Forty micro liters of 1 x 105 keratinocytes/mL were dropped onto cling
wraps and Tegaderm™ either coated by fibrin glues or PRP gel. Measurement of
keratinocytes adhesion was using the MTT-assay, performed after 72 hours
incubation, and read by 570 nm of spectrometer. Improving of research validity was
performed by eight times repeated procedures. The means of optical density of blue
formazan among various groups were analyzed using the one-way Anova and
Kruskal Wallis test with post hoc analysis by Mann-Whitney test.
The results showed adhesion of keratinocytes on uncoated cling wrap better
than uncoated Tegaderm™ (P<0,05). Fibrin glue coating on the cling wrap
significantly (P<0.05) enhanced the adhesion of keratinocytes. This adhesion is equal
to fibrin glue coated Tegaderm ™. This fact is not found among PRP gel coated cling
wrap. Conclusion, cling wrap can be used as keratinocyte transport membrane in
cellular grafting
INTISARI: Plastik cling wrap bersifat mirip Tegaderm™, plester pembalut luka yang biasa
digunakan sebagai wahana pembawa keratinosit, meskipun dipandang mahal. Gel
PRP dan lem fibrin merupakan bahan adhesif yang biasa digunakan dalam
transplantasi selular. Penambahan lem fibrin dan gel PRP pada plastik cling wrap
diharapkan dapat mengganti fungsi Tegaderm™.
Untuk membuktikan dugaan diatas, dirancang penelitian invitro dengan
menilai adhesi 40 μL suspensi keratinosit passage 2 berdensitas 1 x 105 sel/mL yang
diteteskan pada plastik cling wrap masing-masing berlapis lem fibrin dan gel PRP,
dan membandingkannya dengan Tegaderm™. Untuk meningkatkan validitas
penelitian, pengulangan dilakukan sebanyak delapan kali. Pengukuran adhesi
keratinosit dilakukan setelah inkubasi selama 72 jam, menggunakan MTT-assay dan
dibaca dengan spektroskopi 570 nm. Rerata densitas optis formasan biru dianalisa
dengan uji one-way Anova dan uji Kruskal Wallis dengan analisis post hoc uji Mann-
Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adhesi keratinosit pada plastik cling wrap tanpa
lem lebih baik dibandingkan Tegaderm™ tanpa lem (P<0,05). Pelapisan lem fibrin
pada plastik cling wrap meningkatkan adhesi keratinosit secara bermakna (P<0,05),
setara dengan adhesi keratinosit pada Tegaderm™ berlem fibrin. Hal serupa tidak
terjadi pada pelapisan plastik cling wrap dengan gel PRP. Kesimpulan, plastik cling
wrap dapat digunakan sebagai wahana pembawa keratinosit dalam grafting selular.
Labels:
TESIS
Browse: Home /
TESIS /
TESIS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
/ HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, ASUPAN FOSFOR DAN RASIO FOSFOR-PROTEIN DENGAN KADAR FOSFOR DARAH PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIS DENGAN HEMODIALISIS RUTIN DI YAYASAN GINJAL DIATRANS INDONESIA 2010
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, ASUPAN FOSFOR DAN RASIO FOSFOR-PROTEIN DENGAN KADAR FOSFOR DARAH PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIS DENGAN HEMODIALISIS RUTIN DI YAYASAN GINJAL DIATRANS INDONESIA 2010
ABSTRACT: Background:
Chronic Kidney Disease (CKD) has become a public health problem
worldwide. Hemodialysis (HD) is a therapy for patients with terminal
CKD. Hyperphosphatemia is one cause of mortality of CKD patients on
routine HD. Correction and prevention of hyperphospatemia is a major
component in the management of HD patients. High diet of protein in HD
patients can cause increased concentration of phosphor serum due to
mineral metabolism disorder associated with decreased function of renal
glumerulous filtration rate. High protein intake is often followed by
high phosphor intake because food containing high protein also contains
much phosphor that will cause hyperphosphatemia. Meanwhile reduction of
protein intake to control phosphor is associated with physical stamina.
Good ratio of phosphor-protein is necessary to provide adequate protein
intake and avoid hyperphosphatemia.
Objective: To identify association between intake of protein, phosphor
and ratio of phosphor-protein and level of blood phosphor in patients
with CKD on routine HD.
Method: The study was analytic observational that used cross sectional
design with quantitative method. Data were obtained through food record,
interview using questionnaire and laboratory test. Analysis used chi
square at confidence interval 95%.
Result: There was association between protein intake (p 0.037, RP 1.36,
95% CI 1.04-1.77), phosphor intake (p 0.005, RP 1.49, 95% CI 1.12-1.99)
and ratio phosphor-protein (p 0.045, RP 1.39, 95% CI 1.08-1.79) and
level of blood phosphor in CKD patients on routine HD.
Conclusion: Protein intake was still needed to meet nutrition status but
it should be considered to select source of protein that had low ratio
of phosphor-protein. Source of phosphor as well as protein should be
limited to sustain normal level of blood phospor. It was suggested to
consume drugs that accurately and regularly bound phosphate.
INTISARI: Latar
Belakang : Penyakit ginjal kronik (PGK) telah menjadi problem kesehatan
masyarakat di dunia. Hemodialisis (HD) adalah satu dari pilihan terapi
pasien PGK terminal. Hiperfosfatemia merupakan penyebab kematian dari
pasien dengan PGK dengan HD rutin. Koreksi dan pencegahan
hiperfosfatemia adalah komponen utama dari manajemen pasien
hemodialisis. Diet tinggi protein pada pasien hemodialisis dapat
mengakibatkan kadar serum fosfor meningkat karena adanya gangguan
metabolisme mineral yang berhubungan dengan fungsi laju filtrasi
glomerulus ginjal menurun. Asupan tinggi protein seringkali diikuti
dengan asupan fosfor yang tinggi karena bahan makanan tinggi protein
juga banyak mengandung fosfor, yang akan menyebabkan hiperfosfatemia.
Sebaliknya, pengurangan asupan protein untuk mengontrol fosfor akan
berakibat daya tahan tubuh menurun. Oleh karena itu diperlukan rasio
fosfor - protein dalam makanan yang rendah untuk mencukupi asupan
protein dan menghindari hiperfosfatemia.
Tujuan : Mengetahui hubungan asupan protein, fosfor dan rasio fosfor -
protein dengan kadar fosfor darah pada pasien penderita penyakit ginjal
kronis dengan hemodialisis rutin.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik,
menggunakan rancangan Crosssectional dengan metode kuantitatif.
Pengumpulan data menggunakan food record, wawancara kuesioner dan tes
laboratorium. Analisa dengan chi square dengan kepercayaan 95 %.
Hasil : Ada hubungan antara asupan protein (p 0,032; RP 1,36 ; 95% CI
1,04-1,77), asupan fosfor (p 0,005 ; RP 1,49 ; 95% CI 1,12-1,99) dan
rasio fosfor - protein (p 0,045 ; RP 1,39 ; 95% CI 1,08-1,79) dengan
kadar fosfor darah pada pasien penyakit ginjal kronik dengan
hemodialisis.
Kesimpulan : Asupan protein tetap diperlukan untuk memenuhi status gizi
tetapi perlu adanya pemilihan bahan makanan sumber protein yang
mempunyai rasio fosfor - protein yang rendah. Bahan makanan sumber
fosfor selain dari protein perlu dibatasi untuk menjaga kadar fosfor
darah tetap normal. Dianjurkan mengkonsumsi obat pengikat fosfat dengan
tepat dan teratur.
Labels:
TESIS,
TESIS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
Browse: Home /
TESIS /
TESIS FARMASI KLINIK
/ EVALUASI KESESUAIAN TERAPI DAN EFEK SAMPING PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS RUTIN DI RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
EVALUASI KESESUAIAN TERAPI DAN EFEK SAMPING PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS RUTIN DI RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
ABSTRACT: Background: Antihypertensive selection accuracy determines the achievement of
therapy target toward type 2 diabetes mellitus with chronic kidney disease patients
who received regular hemodialysis treatment. The use of drugs in a longtime
potentially causes side effects and drug interactions as well.
Objective: This research is aimed to discover the appropriate therapy and
antihypertensive usage side effects on type 2 diabetes mellitus with chronic
kidney patients who received regular haemodialysis treatment at RSU PKU
Muhammadiyah Yogyakarta during February – April 2011.
Method: This research employed prospective observation by evaluating the
appropriateness of therapy and monitoring directly the side effects of
antihypertensive agent used toward type 2 diabetes mellitus with chronic kidney
disease patients who received regular haemodialysis treatment during February –
April 2011. Data collected from medical record and interview with patient or
their family was analyzed descriptively.
Research results and conclusion: For 42 patients having type 2 diabetes mellitus
with chronic kidney disease who received regular haemodialysis treatment, it was
defined that patient who received appropriate therapy and achieved blood pressure
therapy target was none, 4 patients (9.53%) received appropriate therapy yet the
blood pressure remained uncontrolled, 2 patients (4.76%) received inappropriate
therapy yet achieved controlled blood pressure and 36 patients (85.71%) received
inappropriate therapy with remained uncontrolled blood pressure. From 42
patients, it was defined that there were 11 patients (26,20%) were possible and 5
patients (11,90%) were probable suffered from dry cough, 26 patients (61.91%)
were possible for suffered from dizziness, 39 patients (92.86%) were possible
suffered from headache, 2 patients (4.76%) were potentially suffered from fatigue
and 13 patients (30,95%) were possible and 2 patients (4,76%) were probable
suffered from drowsiness.
INTISARI: Latar Belakang : Ketepatan dalam pemilihan antihipertensi merupakan salah satu
yang berpengaruh pada keberhasilan pencapaian target terapi pada pasien diabetes
mellitus tipe 2 dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis rutin.
Penggunaan obat dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relative lama
berpotensi untuk menimbulkan efek samping maupun interaksi obat.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian terapi dan efek
samping penggunaan antihipertensi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan
gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis rutin di RSU PKU
Muhammadiyah Yogyakarta periode Februari – April 2011.
Metode : Penelitian dilakukan dalam bentuk observasi prospektif dengan
mengevaluasi kesesuaian terapi dan memantau langsung efek samping
penggunaan antihipertensi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan gagal ginjal
kronik yang menjalani hemodialisis rutin selama periode Februari - April 2011.
Data yang diperoleh dari rekam medik dan wawancara dengan pasien atau
keluarga kemudian dianalisis secara deskriptif
Hasil Penelitian dan Kesimpulan: Dari 42 pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan
gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis rutin diketahui bahwa pasien
yang mendapatkan pilihan terapi yang tepat dan tekanan darahnya mencapai target
terapi sebanyak 0%. Pasien yang mendapatkan terapi yang tepat tetapi tekanan
darahnya tidak mencapai target terapi sebanyak 4 orang (9,53%). Pasien yang
mendapat terapi tidak tepat tetapi tekanan darahnya mencapai target terapi
sebanyak 2 orang (4,76%). Pasien yang mendapat terapi tidak tepat dan tekanan
darahnya tidak tidak mencapai target terapi sebanyak 36 orang (85,71%). Dari 42
pasien, 11 orang (26,20%) possible dan 5 orang (11,90%) probable mengalami
efek samping berupa batuk kering,.26 orang (61,91%) yang possible mengalami
efek samping berupa pusing, 39 orang (92,86%) yang possible mengalami efek
samping berupa sakit kepala,. 2 orang (4,76%) yang possible mengalami efek
samping berupa lemah (fatigue),.13 orang (30,95%) yang possible dan 2 orang
(4,76%) probable mengalami efek samping berupa mengantuk.
Labels:
TESIS,
TESIS FARMASI KLINIK
Browse: Home /
TESIS
/ PERAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN (DIKLATPIM) TINGKAT IV DALAM MENCIPTAKAN SDM BERKUALITAS (STUDY DI KEDEPUTIAN BIDANG PENGKAJIAN STRATEGIK LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL RI)
PERAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN (DIKLATPIM) TINGKAT IV DALAM MENCIPTAKAN SDM BERKUALITAS (STUDY DI KEDEPUTIAN BIDANG PENGKAJIAN STRATEGIK LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL RI)
ABSTRACT: This research is done to know the ability of the steadiness and understanding
of Diklatpim level IV Badiklat Defense Ministry to create civil worker in a good
government administration defense in the nasional defense institation and its influense
to the society in general, also its implication to the nasional defence.This research is
done by qualitative method by collecting data through deep interview with the
respondent and continued by sorting the data. The improvement and development of
working can not be separated from working disipline, because the connection of
working-working dicipline level is very close with working productivity,and if the
workerds working dicipline is low,it will give influence into low human resourse too.
From the achievement of workers, they succestor failure to reach the organisation
goal will beseen. Where to start, and the influence factors of the working area, is
classified in to three parts, i.e. organization problem, discipline and working
atmosphere. Strategy improvement of working disipline to increase human resources
cover are first, improve motivation, second, increase the members wealth, third,
member statement to be ready to work, fourth, thightly supervision.
Objective condition of workers and working productivity from the research
result can be said is still low, and that Diklatpim IV is influenced much by dicipline
level,so the strategy to increase the understanding diklatpim level IV Badiklat
Defence Ministry used to create civil worker in a good Defence Ministry
environment, is headed key word : Diklapim level IV, the ability to create civil worker, National Defence
INTISARI: Pegawai Negeri Sipil yang meurpakan asset terpenting bagi pemerintah, agar
dapat berfungsi dengan baik, perlu diberikan kesempatan untuk berkembang, karena
pada kenyataannya selama ini banyak unit organisasi pemerintahan yang belum
melaksanakan pengembangan pegawai secara baik. Hal ini terindikasi dari belum
terlaksananya tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan dengan baik. Lembaga
Ketahanan Nasional sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen yang mempunyai
tugas utama melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Pengkajian dan Pendidikan
Strategik Ketahanan Nasional. Untuk pengembangan Pegawai negeri Sipil di
lingkungan kedeputian Bidang Pengkajian Strategik Lemhannas RI dalam membentuk
SDM yang berkualitas yang memiliki : profesionalitas, dan memiliki semangat jiwa
kejuangan yang dimiliki oleh organisasi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengembangan PNS melalui Pendidikan dan Pelatihan
Kepemimpinan Tingkat IV untuk Pejabat yang duduk dalam struktural Eselon IV,
yang merupakan ujung tombak dalam melayanimasyarakat.
Konsep kunci dalam penelitian ini adalah Peran Diklatpim Tingkat IV Dalam
Rangka Menciptakan SDM yang Berkualitas Pada Deputi Bidang Pengkajian
Strategik Lemhannas RI. Adapun aspek-aspek yang akan diteliti dan dapat diukur
adalah : Pendidikan dan Pelathan Kepemimpinan Tinngkat IV, adapun sub-sub aspek
yang diteliti adalah :
1. Kehadiran pegawai, dengan sub aspek :
a. Ketaatan terhadap ketentuan jam kerja
b. Ketaatan terhadap ketentuan waktu datang
c. Ketaatan terhadap ketentuan waktu pulang
2. Pengawasan Pimpinan
3. Penjatuhan Sanksi/HukumanDisiplin
4. Kualitas Kinerja yang dihasilkan oleh PNS yang telah mengikuti Diklatpim
Tingkat IV
5. Proses rekruitmennya apakah sudah terencana dan sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki peserta Diklat
Penelitian ini dilakukan dnegan menggunakan Metode Penelitian Kualitatif.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara Wawancara, telaah dokumen dan
menggunakan chek list. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah
analisis kualitatif.
Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Peran Diklatpim Tingkat IV
Dalam Rangka Menciptakan SDM yang Berkualitas pada Kedeputian Bidang
pengkajian Strategik Lemhannas RI cukup baik, maka untuk mencapai yang lebih
baik, disarankan untuk Pimpinan Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lemhannas RI
betul-betul mengusulkan Personil yang berprestasi kepada bagian Kepegawaian untuk
mengikuti Diklatpim secara berkesinambungan. Hal ini dikarenakan kurangnya
perencanaan pelaksanaan program Diklatpim Tingkat IV maupun kurangnya
koordinasi dan sinergitas antara pihak Kepegawaian Lemhannas RI dengan pihak
penyelenggara program Diklat seperti : Kementerian Pertahanan, LAN, Kementerian Agama, dan penyelenggara program diklat lainnya.
Labels:
TESIS
Browse: Home /
TESIS
/ Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan, Kesehatan Dan Infrastruktur terhadap Human Development Index (HDI)
Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan, Kesehatan Dan Infrastruktur terhadap Human Development Index (HDI)
ABSTRACT: The research aims to analyze the influence of government expenditure in
educational, health and infrastructure sector on Human Development Index (HDI) in
Indonesia in 2004-2008. The government expenditure in infrastructure is proxied by
the variable of the government infrastructure expenditure in housing and public
facility. The government expenditures in education, health and infrastructure sectors
are investment in Human Development Index.
The research used panel regression ie Fixed Effect model approach. The result
of this resarch is that the government expenditure in education, health and
infrastructure sector has positive influence in developing Human Development Index
in Indonesia. However, the government expenditures in education doesn’t have
significant impact on HDI
INTISARI: Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pengeluaran
pemerintah atas pendidikan, kesehatan dan infrastruktur terhadap Human
Development Index (HDI) di Indonesia periode 2004-2008. Pengeluaran pemerintah
atas infrastruktur diwakilkan dengan variabel pengeluaran pemerintah atas
perumahan dan variabel pengeluaran pemerintah atas fasilitas umum. Pengeluaran
pemerintah atas pendidikan, kesehatan dan infrastruktur pada dasarnya merupakan
suatu investasi terhadap Human Development Index. Efek pembangunan pada ketiga
sektor tersebut tidak dapat berdampak langsung melainkan membutuhkan beberapa
periode untuk dapat merasakan dampaknya.
Dengan menggunakan metode regresi data panel, yaitu pendekatan model
Fixed Effect, diperoleh hasil bahwa pengeluaran pemerintah dalam bidang
pendidikan,kesehatan, dan infrastruktur berpengaruh positif dalam meningkatkan
Human Development Index di Indonesia. Hasil analisis pengaruh pengeluaran
pemerintah dalam bidang kesehatan dan infrastruktur berpengaruh meningkatkan
HDI indonesia dan signifikan. Sedangkan pengaruh pengeluaran pemerintah dalam
bidang pendidikan berpengaruh meningkatkan HDI indonesia namun tidak signifikan.
Labels:
TESIS
Browse: Home /
TESIS
/ PENGARUH BIAYA PENDIDIKAN TERHADAP MUTU PRESTASI BELAJAR DENGAN MUTU PROSES BELAJAR MENGAJAR SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI KOTA BANDAR LAMPUNG
PENGARUH BIAYA PENDIDIKAN TERHADAP MUTU PRESTASI BELAJAR DENGAN MUTU PROSES BELAJAR MENGAJAR SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI KOTA BANDAR LAMPUNG
ABSTRACT: The purpose of this studywas to testthat the cost of education affects thequality
oflearning achievement through quality teaching and learning process at
the State Junior High School City ofBandarLampung. The costof educationin this
studyfocusesonthe cost ofschooleducationbased on documentsobtained byAPBS.
Study sample was 31 Bandar Lampung junior high school.
Testscarried out usingsimplelinearregressionandmultiple linear regressions.
The results showedthat the costof educationaffects thequality oflearning
achievementthroughqualityteaching and learning process, while
theeducationalcomponent ofthe allocation ofcoststhat affect thequality oflearning
achievementis the cost ofresourcesand services,the cost ofteacher professional
development andstudent activitiesfee. Forcost allocationcomponentthat affectsthe
quality ofteaching and learningprocessareother costs, the cost ofteacher
professional development, resourcesand servicescosts, the cost of
providingteaching and learning processandthe costof student activities.
INTISARI: Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji bahwa biaya pendidikan berpengaruh
terhadap mutu prestasi belajar melalui mutu proses belajar mengajar pada Sekolah
Menengah Pertama Negeri Kota Bandar Lampung. Biaya pendidikan pada
penelitian ini berfokus pada biaya pendidikan yang diperoleh sekolah berdasarkan
dokumen APBS.Sampel penelitian adalah 31 Sekolah Menengah Pertama Negeri
Kota Bandar Lampung.Pengujian dilakukan dengan menggunakan regresi linear
sederhana dan regresi linear berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya pendidikan berpengaruh terhadap
mutu prestasi belajar melalui mutu proses belajar mengajar, sedangkan komponen
alokasi biaya pendidikan yang berpengaruh terhadap mutu prestasi belajar adalah
biaya daya dan jasa, biaya pengembangan profesi guru dan biaya kegiatan
kesiswaan. Untuk komponen alokasi biaya yang berpengaruh terhadap mutu
proses belajar mengajar adalah biaya lain-lain, biaya pengembangan profesi guru,
biaya daya dan jasa, biaya penyelenggaraan proses belajar mengajar dan bia ya
kegiatan kesiswaan.
Labels:
TESIS
Browse: Home /
TESIS
/ PENDIDIKAN SEKS DALAM KELUARGA DI ERA MODERN (Studi Pada Sepuluh Keluarga Yang Mempunyai Anak Remaja Perempuan Di Kelurahan Banguntapan,Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul)
PENDIDIKAN SEKS DALAM KELUARGA DI ERA MODERN (Studi Pada Sepuluh Keluarga Yang Mempunyai Anak Remaja Perempuan Di Kelurahan Banguntapan,Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul)
ABSTRACT: Sexual education for adolescents to be one way to transfer all kinds of
knowledge related to healthy sexuality, physical, psychological, and social order
capable of preventing or reducing adolescent sexual abuse that have a negative
impact. Parents as a source of information for a child's first sexual education
should be delivered early and continuous.
This study intends to find out the meaning of the parents towards sexual
education for adolescent girls and how they implement these concepts. The
method used in this study is a qualitative descriptive. This study uses the theory of
social construction Berger and Luckmann and analysis of power Michel Foucault,
with the presentation of the results and analysis of narrative. Informants in this
study are grouped into key informants (community leaders) as much as two
people, the key informants as many as 10 pairs of parents and 10 adolescents
(girls from key informants) as an informant supporters.
The results showed that the variation of meaning is affected by reserves of
knowledge (stock of knowledge) that have each informant. The meanings of sex
education, most of the skilled working class parents are limiting the meaning to
something that can grow for teens terrified even one informant in this social class
interpret it as a taboo and dangerous. Although the informants of social class is
still limiting the meaning of sex education in being set apart in eliciting fear, but
there has been a shift in resources to raise fears over the source of fear in which
the logic of cause and effect on sexual behavior or religious spectacles. In the
lower middle class family, meaning parents towards sex education is no longer
constrained to give a sense of fear, but limited to the appearance of the
responsibility to maintain the honor of their parents. While middle-class parents
make sense of sexual education as something that can foster a sense of
responsibility to keep the teenagers themselves.
In the application, most of the skilled working class informants have less
tendency to give their attention to the sexual problems of their children. Power
relations are still strongly relies on parents as a center distance of the parents raise
the child so that attention and a discussion of sexual issues with children is
difficult to form. In the lower middle social classes, the implementation of sexual
education based on the power of knowledge that are more productive and power
relations that existed more spread out between parents and children so it is not
always the foundation of the power lies in the elderly. In the middle class, power
relations of parents with children who are no longer bring up the repressive
atmosphere of the dialogue in the family. This encourages a form of attention and
discussion of sexual problems than children who are more open to parents and
vice versa.
INTISARI: Pendidikan seksual bagi remaja menjadi salah satu cara untuk mentransfer
segala macam pengetahuan yang berkaitan dengan seksualitas yang sehat fisik,
psikis, dan sosial agar remaja mampu mencegah ataupun mengurangi
penyalahgunaan seks yang berdampak negatif. Orang tua sebagai sumber
informasi pertama bagi seorang anak seharusnya menyampaikan pendidikan
seksual sejak dini dan berkesinambungan.
Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui pemaknaan orang tua terhadap
pendidikan seksual bagi remaja perempuan serta bagaimana mereka
melaksanakan konsep-konsep tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah deskriptif kualitatif. Studi ini menggunakan teori konstruksi sosial
Berger dan Luckmann serta analisis kuasa Michel Foucault, dengan penyajian
hasil dan analisis berbentuk narasi. Informan dalam penelitian ini dikelompokkan
menjadi informan kunci (tokoh masyarakat) sebanyak dua orang, informan utama
sebanyak 10 pasang orang tua, dan 10 remaja (anak perempuan dari informan
utama) sebagai informan pendukung.
Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi pemaknaan yang dipengaruhi
oleh cadangan pengetahuan (stock of knowledge) yang dimiliki masing-masing
informan. Dalam memaknai pendidikan seks, sebagian besar orang tua kelas
pekerja trampil masih membatasi pemaknaan tersebut pada sesuatu yang dapat
menumbuhkan ketakutan bagi anak remaja bahkan satu orang informan di kelas
sosial ini memaknainya sebagai sesuatu yang tabu dan membahayakan. Meskipun
para informan kelas sosial ini masih membatasi pemaknaan pendidikan seks pada
sesuatu yang diperuntukkan dalam memunculkan ketakutan, tetapi telah ada
pergeseran sumber untuk memunculkan ketakutan itu dimana sumber ketakutan
lebih pada logika sebab akibat perilaku seksual ataupun pada kacamata religi. Di
keluarga kelas menengah bawah, pemaknaan orang tua terhadap pendidikan
seksual tidak lagi dibatasi memberi rasa takut tetapi dibatasi pada pemunculan
tanggung jawab untuk menjaga kehormatan orang tua. Sedangkan orang tua kelas
sosial menengah memaknai pendidikan seksual sebagai sesuatu yang dapat
menumbuhkan rasa tanggung jawab anak remaja untuk menjaga dirinya sendiri.
Dalam penerapan, sebagian besar informan kelas pekerja trampil
mempunyai kecenderungan kurang memberikan perhatian mereka pada masalah
seksual anak-anaknya. Relasi kuasa yang masih kuat bertumpu pada orang tua
sebagai pusat memunculkan jarak orang tua dengan anak sehingga perhatian dan
kesempatan diskusi masalah seksual dengan anak sulit terbentuk. Di kelas sosial
menengah bawah, implementasi pendidikan seksual didasari oleh kuasa
pengetahuan yang lebih bersifat produktif dan relasi kuasa yang terjalin lebih
menyebar antara orang tua dengan anak sehingga tidak selalu tumpuan kuasa
terletak pada orang tua. Pada kelas menengah, relasi kuasa orang tua dengan anak
yang tidak lagi bersifat represif memunculkan suasana yang dialogis dalam
keluarga. Hal ini mendorong bentuk perhatian dan diskusi masalah seksual yang
lebih terbuka dari anak ke orang tua maupun sebaliknya.
Labels:
TESIS
Browse: Home /
TESIS
/ PEMAHAMAN GURU TENTANG KECERDASAN MAJEMUK DAN APLIKASINYA DI TEMPAT PENITIPAN ANAK
PEMAHAMAN GURU TENTANG KECERDASAN MAJEMUK DAN APLIKASINYA DI TEMPAT PENITIPAN ANAK
ABSTRACT: The purpose of this research is to know teacher‟s comprehension of multiple
intelligences and its application at Daycare or Tempat Penitipan Anak (TPA). The
subjects of this research are 4 (four) Daycare teachers, 5 (five) informants consist
of 3 (three) Daycare teachers and 1 (one) head master also 1 (one) children parent.
The research was conducted at Daycare “Tunggadewi Jogyakarta”. Method of this
research is qualitative method by using phenomenological approach. In applying
phenomenological approach the researcher was used Moustakas theory; such as,
epoche, phenomenological reduction, imaginative variation, and synthesis of
meaning and essence. This research found that two of four Daycare teachers in
Tunggadewi is still lack of comprehension about multiple intelligences aspects.
However, the application of multiple intelligences in the learning process is done
well by all teachers at Daycare.
INTISARI: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seperti apa pemahaman guru
tentang kecerdasan majemuk serta aplikasinya di Tempat Penitipan Anak (TPA).
Subjek penelitian ini adalah 4 orang guru TPA, dan informan penelitian
sebanyak 5 orang yang terdiri dari 3 orang guru TPA, 1 orang Kepala Sekolah dan
1 orangtua anak yang dititipkan di TPA. Lokasi penelitian bertempat di Tempat
Penitipan Anak Tunggadewi Jogjakarta. Metode dalam penelitian ini adalah
metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Dalam proses fenomenologi,
peneliti menggunakan teori Moustakas, berupa epoche, phenomenological
reduction, imaginative variation, dan syntesis of meaning dan essence. Hasil dari
penelitian ini adalah 2 dari 4 orang subjek penelitian yang berprofesi sebagai guru
di TPA Tunggadewi belum begitu memahami tentang aspek-aspek dari
kecerdasan majemuk. Namun aplikasi dalam pelaksanaan pembelajaran di TPA,
semua guru dapat melaksanakannya.
Labels:
TESIS
Browse: Home /
TESIS
/ MODEL PELAYANAN RAWAT INAP TERPADU SEBAGAI BASIS INTEGRASI ANTAR PROFESI DALAM PELAYANAN KESEHATAN DI RS PENDIDIKAN RSUP Dr HASAN SADIKIN
MODEL PELAYANAN RAWAT INAP TERPADU SEBAGAI BASIS INTEGRASI ANTAR PROFESI DALAM PELAYANAN KESEHATAN DI RS PENDIDIKAN RSUP Dr HASAN SADIKIN
ABSTRACT: Background. Interdisciplinary model of patient care was developed to integrate
multiprofessional practices in health care services of tertiary teaching hospital in
Bandung West Java. The aim of the development of this model primarily is to
enhance a good health care services in hospital ward through cohesive colaborative
practice. Cohessiveness in collaborative practice is needed to bridge the classical
problems of multidisiplinary approach of caring where every single discipline work
on their own, so that lack of coordination and role overlap could be managed and
patient’s need of care were delivered safely, integrated and continuously.
Cohessiveness was established by creating the culture of interdisciplines in the four
components of model namely care path, teamwork on patient care, integrated patient
documentation, and interdisciplinary case conference. The aim of this study is to
evaluate collective and expert culture among physicians and nurses and its impact on
patient safety, quality of care and patient satisfaction.
Methodology. Post test only research design was conducted to measure collective
and expert culture of physicians and nurses. In the 1st measurement 39 phisicians and
32 nurses participated, in 2nd measurement 22 physicians and 25 nurses participated .
Incidents of patient safety was identified through the number of diagnostic error,
treatment error, preventive error, and others error. Evaluation of quality of care was
examine through observation based on objective standards of care delivery, and
patients satisfaction through questionnaires. Data were analyzed with test of mean
difference, Poisson regression and anova at α 0,05.
Results. Collective culture signicantly greater than expert culture in three
components of model in the 1st measurement. In the 2nd measurement collective
culture greater significantly than expert culture in the four components of model. On
the incidence of patient safety there was decreasing between 1st and 2nd measurement
by 45% in diagnostic errors, 49.5% in treatment errors, 88.12% in preventive errors
and 100% in others. On the quality of care, there was an increase in the compliance of
standard of care from 76.4% in the 1st to 80.57%in 2nd measurement. There was
decreased of patients satisfaction from 94.5% in the 1st to 89.48% in 2nd
measurement, but the patients’ expectation increase from 4.12 to 4.61 in the scale of
1-5. Statistically there was no significant difference of the effect of culture of
interdisciplines on the patients safety, quality of care and patients satisfaction.
Conclussion. Shared expertise as the core of collective culture and spirit of the
Interdisciplinary health care do exist and strengthen in this collaborative professional
practice. However its effect on the patient satisfaction, quality of care and patient
satisfaction is not statistically significant.
INTISARI: Latar belakang. Penelitian tentang pengembangan Model Pelayanan Rawat
Inap Terpadu (MPRIT) sebagai basis integrasi antar profesi dalam pelayanan
kesehatan dilakukan di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. Tujuan awal
pengembangan model adalah meningkatkan tata kelola pelayanan kesehatan di
tatanan rawat inap guna mengatasi fragmentasi pelayanan karena tumpang tindihnya
peran dan fungsi pelaksana asuhan dari berbagai disiplin profesi baik sebagai praktisi,
pendidik maupun praktikan, sehingga potensi kerawanan terhadap berbagai kesalahan
yang utamanya terkait dengan situasi atau sistem dapat diminimalisasi.
Pengembangan MPRIT difokuskan pada proses menumbuhkan kultur interdisiplin
sebagai spirit praktik kolaborasi antar professional kesehatan melalui empat
komponen model. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kultur interdisiplin
dan pengaruhnya terhadap keselamatan pasien, kualitas asuhan dan kepuasan pasien.
Metodologi. Evaluasi kultur interdisiplin menggunakan rancangan post test
design only dengan melakukan dua periode pengukuran terhadap dokter dan perawat.
Pada pengukuran I, 39 dokter dan 32 perawat berpartisipasi, pada pengukuran II, 22
dokter dan 25 perawat berpartisipasi. Evaluasi terhadap insiden keselamatan pasien
diukur dari angka kejadian terkait kesalahan (proses) diagnosis, kesalahan perlakuan,
kesalahan pencegahan dan kesalahan lain. Evaluasi kualitas asuhan dilakukan
melalui pengamatan dengan standar objektif terhadap alur proses pengelolaan pasien
, survey kepuasan pasien dengan evaluasi subjektif melalui kuesioner. Data dianalisis
menggunakan uji beda mean, regresi poisson dan uji anova.
Hasil. Kultur kolektif secara signifikan lebih besar dari kultur individu, pada
tiga komponen di pengukuran I dan menguat di pengukuran II yang ditunjukkan oleh
kultur kolektif lebih besar dari kultur individu secara signifikan di semua komponen
model. Antara pengukuran I dan II, pada insiden keselamatan pasien terdapat
penurunan angka kejadian sebesar 45% pada insiden terkait kesalahan proses
diagnosis, 49,5% pada insiden terkait kesalahan perlakuan, 88,12% terkait kesalahan
pencegahan dan 100% terkait kesalahan lain. Pada kualitas pelayanan, terjadi
kenaikan dari 76,4% menjadi 80,57%. Pada variable kepuasan pasien, ada penurunan
kesesuaian antara pengalaman dan harapan pasien yaitu 94,5% pada pengukuran I
menjadi 89,48% pada pengukuran II karena terjadinya kenaikan ekspektasi pasien
dari 4,12 menjadi 4,61. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara menguatnya
kultur interdisiplin dengan keselamatan pasien, kualitas asuhan dan kepuasan pasien.
Kesimpulan. Kultur interdisiplin sudah terbentuk dan menguat pada dokter dan
perawat di unit MPRIT. Menguatnya kultur interdisiplin secara signifikan belum
berpengaruh pada keselamatan pasien, kualitas pelayanan dan kepuasan pasien.
Labels:
TESIS
Browse: Home /
TESIS
/ MENIGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN STRATEGI THINK-PAIR-SHARE PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMK N 4 YOGYAKARTA
MENIGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN STRATEGI THINK-PAIR-SHARE PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMK N 4 YOGYAKARTA
ABSTRACT: The success of learning program is very much dependent upon a role
played by a teacher in a teaching and learning process. Good relationship and
cooperation become important to achieve the learning objectives. The problem is
often encountered in the learning process is that the lack of students learning
motivation. This is because of the students perception that Civics is the subject to
be memorized and the learning materials are available in the books/modules. The
other reasons are the students are not attentive and active in the learning process,
hesitation in expressing opinions before their classmates. Facing this situation, a
teacher needs a effort to find out strategies that enable to activate and motivate
students in the teaching and learning process. One of the strategies that can be
applied to increase students learning motivation is the Think-Pair-Share Strategy.
As the meaning implied in the term, the strategy involves the student to think,
working together in pair and share their ideas with their pairs in coping up with
problems. This strategy, therefore, can be a solution in an effort to increases
students learning motivation, especially Civics learning.
The aim of this research is to know the enhancement of students learning
motivation after the Think-Pair-Share Strategy is applied to Civics learning
process at SMK N 4 Yogyakarta.
Research method used by the researcher is the quasi-experiment with non
randomized repetition experimental design (non randomized pretest posttest
control group design), in which two groups are involved that is grade XI Boga 1
as experimental group, grade XI Boga 2 as control group. Technique used in
collecting data was that questionnaire was given to both groups before and after
the treatment to see if there is difference in increase of learning motivation
between the two groups. Data is analyzed quantitatively.
The result is that there is a significant increase in students learning
motivation on the experimental group after applying the Think-Pair-Share
Strategy. The average of pretest and posttest increases compared to that of control
group. The conclusion is that Think-Pair-Share strategy enables to increase
students learning motivation on civics subject.
INTISARI: Guru dalam proses pembelajaran memegang peranan yang sangat penting
terhadap berhasil atau tidaknya program pembelajaran. Antara guru dan siswa
harus terjalin suatu kerjasama yang baik. Dengan adanya kerjasama yang baik,
dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan baik dari guru maupun dari
siswa. Permasalahan yang sering dihadapi pada saat proses pembelajaran adalah
kurangnya motivasi belajar siswa. Hal ini dikarenakan siswa menganggap
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah pelajaran hafalan dan materinya
sudah ada di buku/modul, kurangnya perhatian dan keaktifan siswa pada saat
pembelajaran, serta kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan
pendapatnya dihadapan teman-temannya. Sehingga guru perlu mengupayakan
sebuah strategi yang dapat mengaktifkan dan memotivasi siswa dalam proses
belajar mengajar. Salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan
motivasi siswa adalah strategi Think-Pair-Share. Dalam strategi ini, siswa diajak
untuk berpikir, berpasangan dan berbagi dalam menyelesaikan masalah yang ada.
Sehingga Strategi ini dapat menjadi salah satu solusi untuk menjadikan
pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan terutama pada pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan motivasi
belajar siswa setelah penerapan strategi Think-Pair-Share pada pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan di SMK N 4 Yogyakarta.
Metode penelitian yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah kuasi
eksperimen dengan desain eksperimen ulang non random (non randomized pretest
posttest control group design), dengan menggunakan dua kelas yaitu kelas XI
Boga 1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas XI Boga 2 sebagai kelompok
kontrol. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuestioner
kepada kedua kelompok sebelum dan setelah tindakan untuk melihat apakah ada
perbedaan peningkatan motivasi belajar siswa di kedua kelas tersebut. analisis
data dilakukan secara kuantitatif, karena pendekatan yang digunakan adalah
penelitian kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan yang signifikan skor
motivasi belajar siswa pada kelompok eksperimen setelah penerapan strategi
think-pair-share dilihat dari jumlah nilai rata-rata posttest – pretest kelompok
eksperimen dan nilai rata-rata posttest - pretest kelompok kontrol,sehingga dapat
disimpulkan bahwa strategi Think-Pair-Share dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Labels:
TESIS
Browse: Home /
GAYA BAHASA ALQUR’AN PERIODE MEKAH KAJIAN STRUKTURAL-SEMIOTIK /
TESIS
/ GAYA BAHASA ALQUR’AN PERIODE MEKAH KAJIAN STRUKTURAL-SEMIOTIK
GAYA BAHASA ALQUR’AN PERIODE MEKAH KAJIAN STRUKTURAL-SEMIOTIK
Tesis ini
mengkaji gaya bahasa Al-quran periode Mekah, dengan pendekatan struktural-semiotik.
Gaya bahasa, secara sederhana, adalah cara pengarang dalam mengungkapkan
sesuatu. Gaya bahasa memiliki beberapa unsur, mencakup antara lain: unsur
leksikal, unsur gramatikal, retorika (pemajasan, penyiasatan struktur dan pencitraan)
dan kohesi.
Pendekatan
struktural digunakan unt uk menunjukkan bahwa Alqur’an, khususnya surat-surat Makkiyyah, memiliki totalitas dan koherensi
antar bagian yang menyusunnya. Dalam penelitian ini, totalitas dan koherensi
tersebut diasumsikan mula-mula pada surat secara individual, sebelum pada
surat-surat Makkiyyah secara keseluruhan. Pendekatan semiotik
digunakan untuk memaknai fenomena kebahasaan Alquran, tidak hanya pada makna literalnya melainkan juga makna tingkat
lanjut yang mampu mengabstraksikan lebih jauh struktur wacana Alqur’an. Kajian
gaya bahasa demikian pada gilirannya dapat menuntun pada ditemukannya nada
kepengarangan Alquran (auhorial tone) hingga akhirnya menunjukkan pula kekhasan
kepengarangannya (idiosyncrasy) di
hadapan kepengarangan lain.
Mengingat
luasnya fakta kebahasaan Alqur’an periode Mekah, penelitian ini hanya memfokuskan
kepada gaya bahasa pendahulua n surat yang menonjol sepanjang periode dimaksud.
Menggunakan skema kronologis surat yang
ditawarkan Theodor Noeldeke yang disempurnakan berikutnya oleh Schwally, dari
90 surat Makkiyyah, ditemukan tiga gaya
bahasa pendahuluan surat yang menonjol, yaitu sumpah (17 surat), pertanyaan (8 surat)
dan huruf muqatta‘ah (27 surat). Kecuali
satu surat yang berada dalam periode pertengahan, gaya bahasa sumpah menjadi
pendahuluan surat-surat Makkiyyah periode awal. Hal yang sama terjadi pada gaya
bahasa Pertanyaan. Selain satu surat Makkiyyah awal, gaya bahasa huruf muqatta‘ah banyak
didapati dalam surat-surat Makkiyyah
periode pertengahan (10 surat), dan
semakin mendominasi pada periode Mekah akhir (16 surat).
Penggunaan
ketiga gaya bahasa di atas mengindikasikan
bahwa tema sentral (mihwar) Alqur’an periode Mekah adalah otentikasi
wahyu dan risalah Muhammad. Jika skema kronologis Noeldeke-Schwally benar, maka
ketiga gaya bahasa di atas dapat menggambarkan tahapan dakwah Muhammad yang
sangat polemis, sejak awal kenabiannya hingga mendekati masa transisi, hijrah.
Sumpah merefleksikan masa-masa awal dakwah Muhammad ketika Tuhan berusaha
meyakinkan manusia untuk menerima otentisitas Alqur’an dan Muhammad. Sumpah
digunakan untuk meneguhkan otentisitas dimaksud di tengah penolakan masyarakat.
Pada saat yang sama, di bagian
tertentu dari periode Mekah awal
ini, Alqur’an juga menggunakan gaya
bahasa pertanyaan yang memuat sindiran
dan peringatan kepada manusia yang
ingkar. Memasuki periode Mekah pertengahan, penolakan terhadap otentisitas
wahyu dan risalah Muhammad meningkat menjadi permusuhan yang semakin intens.
Hal itu ditengarai dari makin keras dan emosionalnya bahasa
yang digunakan Alqur’an. Pada periode ini, penggunaan sumpah dan
pertanyaan pendahuluan surat menurun secara dramatis, dan mulai digantikan oleh
huruf muqatta‘ah. Jika dalam periode
tengahan, meski dengan nada yang muram dan penuh keputusasaan,
huruf-huruf misterius tadi masih menyisakan harapan akan keimanan manusia, maka
dalam periode Mekah akhir, fawatih al-suwar yang sama mengandaikan klimaks dari
perseteruan yang tak terdamaikan antara Muhammad dan mereka yang memusuhinya.
Pada titik ini, surat-surat Makkiyyah
menampilkan perasaan heran dan keputusasaan yang sangat mendalam terhadap
kekafiran manusia. Berbagai cara yang sudah ditempuh untuk meyakinkan manusia
diantaranya melalui penggunaan sumpah dan pertanyaan untuk menyampaikan
argumentasi kebenaran Alqur’an dan
Muhammad yang menyoal naratif, kosmologi dan eskatologi terbukti tidak cukup
ampuh untuk meluruskan manusia. Dalam kondisi demikian, Tuhan pun seolah
kehabisan kata-kata.
Ketika modus komunikasi normal tidak lagi efektif,
Alqur’an semakin intens menggunakan huruf
muqatta‘ah yang menengarai kegagalan bahasa yang wajar di satu sisi, dan
keputusasaan di sisi yang lain . Surat-surat dengan pendahuluan huruf muqatta‘ah yang emosional dan keras itu mengintrodusir
perintah Tuhan agar Muhammad menarik garis demarkasi yang jelas dari manusia
yang ingkar, penyempitan tugasnya untuk hanya membimbing mereka yang mau
beriman, dan ancaman hukuman yang pedih bagi orang kafir di akhirat kelak. FILE COMPLETE
Browse: Home /
TESIS /
TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK ATAS TANAH BERKAITAN DENGAN PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN
/ TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK ATAS TANAH BERKAITAN DENGAN PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN
TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK ATAS TANAH BERKAITAN DENGAN PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN
DAFTAR ISI
LEMBARAN JUDUL
PERNYATAAN
LEMBARAN PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Penelitian
1.2. Identifikasi Masalah
1.3. Tujuan Penelitian
1.4.
Kegunaan Penelitian
1.5.
Kerangka Pemikiran
1.6.
Metode
Penelitian
1.7.
Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK ATAS TANAH
2.1.
Sistem Pertanahan Berdasarkan Undang-Undang Pokok Agraria
2.2. Hak-Hak Atas tanah Dalam UUPA
2.3.
Terjadinya Hak-Hak Atas Tanah
2.4. Cara Perolehan Hak Atas Tanah Berdasarkan
UUPA
BAB III BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN
BANGUNAN DALAM HUKUM INDONESIA
3.1.
Ketentuan Bea Perolehan Hak Atas Tanah
Dan Bangunan Berkaitan Dengan Peranan
Masyarakat Dalam Pembangunan
3.2
Pengenaan BPHTB Dalam Sistem Perpajakan
3.3.
Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Dalam Rangka Pengenaan BPHTB
3.4.
Undang-Undang Lain Yang Berkaitan Dengan Undang-Undang Bea Perolehan
Hak Atas tanah dan Bangunan
BAB IV HAK-HAK ATAS TANAH DALAM RANGKA
PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK
ATAS
TANAH DAN BANGUNAN
4.1.
Pengenaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan
4.2. Proses Hak-Hak Atas Tanah Dalam Praktek
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Penelitian
Bagi negara
Republik Indonesia yang sedang meningkatkan pembangunan untuk menuju masyarakat
adil dan makmur, pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang
penting bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan nasional
sebagai pengamalan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, hal ini menempatkan
kewajiban perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kenegaraan yang
merupakan peran serta dalam pembiayaan dan pembangunan nasional guna
tercapainya masyarakat yang adil dan makmur, dan sejahtera.[1]
Pembangunan Nasional adalah
rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara
untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional yang termaktub dalam
Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial.[2]
Suatu kenyataan bahwa perekonomian nasional dewasa ini berada dalam
kondisi relatif rendah, laju inflasi tinggi, sedang angka investasi rendah,
jumlah penduduk miskin semakin meningkat serta defisit anggaran dan neraca
pembayaran yang belum sehat. Terhadap
permasalahan yang dihadapi di atas, pemerintah berupaya melakukan berbagai
kebijakan ekonomi diantaranya meletakkan ketentuan dasar bagi pemungutan pajak.
Namun hal tersebut tidaklah mudah dalam realisasinya karena di samping kondisi
perekonomian seperti telah disebutkan di atas, maka faktor intern birokrasi
yang cenderung rumit serta penyelenggara negara yang masih sarat dengan
beraneka penyimpangan dan pelanggaran semakin ikut memperburuk keadaan.[3]
Baik bidang pertanahan yang mempunyai fungsi sosial
maupun bangunan yang memberikan keuntungan atau kedudukan sosial ekonomi yang
lebih baik bagi orang pribadi atau badan yang memperoleh suatu hak atas
tanahnya, maka wajar apabila mereka yang
memperoleh hak tersebut diwajibkan membayar pajak kepada negara. Sesuai dengan
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi :
“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Bidang tanah adalah bagian permukaan bumi yang merupakan satuan bidang
tanah yang terbatas dan inilah yang merupakan objek dari pendaftaran tanah.
Tanah sebagai bagian dari bumi yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa
serta memenuhi kebutuhan dasar untuk papan dan lahan juga merupakan alat
investasi yang sangat menguntungkan, oleh karena itu bagi mereka yang
memperoleh hak atas tanah dan bangunan, adalah cukup pantas untuk menyerahkan
sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak,
yang dalam hal ini dikenal dengan “Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan”
di singkat BPHTB.[4]
[1] PP Nomor 24/1997, tentang Pendaftaran
Tanah, dilengkapi Undang-Undang BPHTB, BP.Cipta Jaya, Jakarta, 1997,
hlm.111.
[2] Propenas 2000-2004, Undang-Undang Nomor25
Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional, Sinar Grafika, Jakarta.
2003, hlm.10.
[3] Amandemen ke Empat Undang-Undang Dasar
1945, Penerbit Citra Umbara, Bandung, 2002, hlm.21
[4] PP Nomor 24/1997, tentang Pendaftaran
Tanah, dilengkapi Undang-Undang BPHTB, Op.Cit,hlm.111.
Browse: Home /
Etika posmodernisme Zygmunt Bauman /
Ideologi Perdamaian Satyagraha Mahatma Gandhi /
TESIS
/ PEMBACAAN POSMODERNISME (DEKONSTRUKSI METANARASI) ATAS IDEOLOGI PERDAMAIAN SATYAGRAHA MAHATMA GANDHI
PEMBACAAN POSMODERNISME (DEKONSTRUKSI METANARASI) ATAS IDEOLOGI PERDAMAIAN SATYAGRAHA MAHATMA GANDHI
| Mahatma Gandhi |
INTISARI
Penelitian tesis ini bertujuan melakukan dekonstruksi metanarasi atas ideologi perdamaian Satyagraha Gandhi. Argumen yang diajukan adalah Satyagraha merupakan metanarasi yang hanya menekankan pemaknaan tunggal tentang manusia dan perdamaian .Oleh sebab itu, harus didekonstruksi menjadi wacana-wacana yang plural serta menolak oposisi biner yang arbitrer. Kerangka analisis yang dirancang terdiri atas dua kerangka konsepsi: Pertama, pendefinisian metanarasi menurut Jean Franquis Lyotard, Jacques Derrida, dan Michel Foucault. Kedua,prosedur dekonstruksi yang terdiri atas; 1) Wacana plural dari Foucault, 2) Logika jalan tengah oleh Derrida, 3) Etika posmodernisme Zygmunt Bauman. Secara ringkas hasil-hasil penelitian ini adalah: 1) Terdapat wacana Satyagraha merupakan kebajikan bagi semua yang hidup, sebagai wacana lain bahwa Satyagraha adalah kebenaran Tuhan, 2) Pada kenyataan nirkekerasan dan kekerasan tidak merupakan oposisi biner yang arbitrer, keduanya adalah pilihan bertindak atas dasar rasionalitas situasi serta nilai-nilai etika yang relatif, 3) Tidak terdapat integrasi total antara cara dengan tujuan damai.
Kata kunci; Gandhi, Satyagraha, Dekonstruksi
Kata kunci; Gandhi, Satyagraha, Dekonstruksi
Subscribe to:
Posts (Atom)