Showing posts with label TESIS. Show all posts
Showing posts with label TESIS. Show all posts

KEEFEKTIFAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL PADA BAYI DI RUANG NEONATAL INTENSIVE CARE UNIT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WATES KULON PROGO


ABSTRACT: Background: World Health Organization estimates that the world's neonatal mortality rate has reached 298,000 or 49 per 1000 live births; Some causes of neonatal death are infections (36%), therefore, nurses’ knowledge and skills on the prevention of infection need to be improved in order to suppress the incidence of neonatal infection and deaths. Objective: Improving Nurses’ Ability in Preventing the Infection of ‘Nosokomial’ to Infants through Trainings of Preventing Infection in the NICU of Wates District Hospital, Kulon Progo. Methods: This was an applied study using an Pre experimental study design and One Group pre and post design. The study sites were in the NICU of Wates District Hospital, Kulon Progo, with study subjects as many as 15 nurses. Results: Of the Preintervensi, the subjects’ characteristics based on the education were 14 people (93.33) while the practice mean value was 15.40 and standard deviation was 4.37. After being given treatment in the form of training, the most common practice done was to wear gloves as many as 11 people (73.33%) and the least done was to wash hands as many as 9 people (60%). The highest improvement aspect was the aspect of processing used tools with a mean difference value of the Preintervensi and the second week Postintervensi as much as 4.46 and the lowest improvement aspect was the aspect of handwashing with a mean difference in Preintervensi and the second week Postintervensi as much as 0.73. The value of infection prevention practices according to the standard in general presented an increase from 0% in the Preintervensi to 53.33% (8 people) in the first week Postintervensi and 46.67% (7 people) in the second week Postintervensi. Conclusion: Training on the prevention of nosocomial infection effectively improved nurses’ practice skills in the prevention of nosocomial infections in accordance with the standard.

ANALISIS PENERAPAN STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM PROPINSI SULAWESI TENGGARA


ABSTRACT: Background: In this globalized era Sulawesi Tenggara Provincial Hospital as a public health service institution is trying to improve quality of health service including nursing service. Nurses have an important role in providing quality public health service in hospital. Capability to provide professional nursing care service according to nursing standard largely depends on knowledge and motivation of nurses in implementing nursing care standard in hospital. Objective: To identify the implementation of nursing care standard at inpatient ward of Sulawesi Tenggara Provincial Hospital and association between knowledge, motivation and supervision function of head of the ward and the implementation of nursing care standard at inpatient ward of Sulawesi Tenggara Provincial Hospital. Method: The study was quantitative with cross sectional design. Population and samples of the study were all nurses at inpatient ward of Sulawesi Tenggara Provincial Hospital. Data were obtained through questionnaire and observation and analyzed using univariate, bivariate with chi square statistical test, and multivariate with logistic regression. Result: The implementation of nursing care standard at inpatient ward of Sulawesi Utara Provincial Hospital was inadequate. There was no association between knowledge and the implementation of nursing care standard; there was association between motivation and the implementation of nursing care standard, and there was association between supervision function of head of the ward and the implementation of nursing care standard. Supervision function of head of the ward was the most dominant variable in the implementation of nursing care standard. Conclusion: There was no association between knowledge and the implementation of nursing care standard; there was association between motivation and the implementation of nursing care standard, and there was association between supervision function of head of the ward and the implementation of nursing care standard.

INTISARI: Latar Belakang: Rumah Sakit Umum Propinsi Sultra sebagai suatu institusi pelayanan kesehatan masyarakat, dalam era globalisasi berusaha meningkatkan kualitas mutu pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan. Tenaga perawat mempunyai kedudukan penting dalam menghasilkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kemampuan memberikan pelayanan asuhan keperawatan secara profesional sesuai standar keperawatan sangat tergantung pada bagaimana pengetahuan, motivasi kerja perawat rumah sakit dalam menerapkan standar asuhan keperawatan di rumah sakit. Tujuan penelitian: untuk mengetahui penerapan standar asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSU Propinsi Sultra dan mengetahui hubungan pengetahuan, motivasi kerja dan fungsi supervisi kepala ruangan terhadap penerapan standar asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSU Propinsi sultra. Metode penelitian: Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian ini menggunakan totally sampling dimana keseluruhan populasi perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Propinsi Sultra dijadikan sampel. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data dan observasi yang kemudian dianalisa secara univariat, bivariat dengan menggunakan uji statistik chi square, multivariate dengan regresi logistik. Hasil: Penerapan standar asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSU Propinsi Sultra masih kurang. Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan penerapan standar asuhan keperawatan, ada hubungan antara motivasi dengan penerapan standar asuhan keperawatan, dan ada hubungan antara fungsi supervisi kepala ruangan dengan penerapan standar asuhan keperawatan. Fungsi supervisi kepala ruangan merupakan variabel yang paling dominan dalam penerapan standar asuhan keperawatan Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan penerapan standar asuhan keperawatan, ada hubungan antara motivasi dengan penerapan standar asuhan keperawatan, dan ada hubungan antara fungsi supervisi kepala ruangan dengan penerapan standar asuhan keperawatan.

ADHESI KERATINOSIT KULIT MANUSIA PADA PLASTIK CLING WRAP BERLEM FIBRIN DAN BERLEM GEL PLATELET-RICH PLASMA (PRP)


ABSTRACT: Cling wrap has properties similar to Tegaderm™, an expensive band-aid that has been used as a transport membrane of keratinocytes. PRP gel and fibrin glues are proved to be useful as the cellular adhesive on cellular transplantation. We hypothesized that either PRP gel or fibrin glues can enhance plastic-keratinocytes adhesion and can be used as a replacement material for Tegaderm™. In order to have an evidence of our hypothesis, an invitro study was designed to determine passage 2 human keratinocytes adhesion on cling wrap and compared to Tegaderm™. Forty micro liters of 1 x 105 keratinocytes/mL were dropped onto cling wraps and Tegaderm™ either coated by fibrin glues or PRP gel. Measurement of keratinocytes adhesion was using the MTT-assay, performed after 72 hours incubation, and read by 570 nm of spectrometer. Improving of research validity was performed by eight times repeated procedures. The means of optical density of blue formazan among various groups were analyzed using the one-way Anova and Kruskal Wallis test with post hoc analysis by Mann-Whitney test. The results showed adhesion of keratinocytes on uncoated cling wrap better than uncoated Tegaderm™ (P<0,05). Fibrin glue coating on the cling wrap significantly (P<0.05) enhanced the adhesion of keratinocytes. This adhesion is equal to fibrin glue coated Tegaderm ™. This fact is not found among PRP gel coated cling wrap. Conclusion, cling wrap can be used as keratinocyte transport membrane in cellular grafting

INTISARI: Plastik cling wrap bersifat mirip Tegaderm™, plester pembalut luka yang biasa digunakan sebagai wahana pembawa keratinosit, meskipun dipandang mahal. Gel PRP dan lem fibrin merupakan bahan adhesif yang biasa digunakan dalam transplantasi selular. Penambahan lem fibrin dan gel PRP pada plastik cling wrap diharapkan dapat mengganti fungsi Tegaderm™. Untuk membuktikan dugaan diatas, dirancang penelitian invitro dengan menilai adhesi 40 μL suspensi keratinosit passage 2 berdensitas 1 x 105 sel/mL yang diteteskan pada plastik cling wrap masing-masing berlapis lem fibrin dan gel PRP, dan membandingkannya dengan Tegaderm™. Untuk meningkatkan validitas penelitian, pengulangan dilakukan sebanyak delapan kali. Pengukuran adhesi keratinosit dilakukan setelah inkubasi selama 72 jam, menggunakan MTT-assay dan dibaca dengan spektroskopi 570 nm. Rerata densitas optis formasan biru dianalisa dengan uji one-way Anova dan uji Kruskal Wallis dengan analisis post hoc uji Mann- Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adhesi keratinosit pada plastik cling wrap tanpa lem lebih baik dibandingkan Tegaderm™ tanpa lem (P<0,05). Pelapisan lem fibrin pada plastik cling wrap meningkatkan adhesi keratinosit secara bermakna (P<0,05), setara dengan adhesi keratinosit pada Tegaderm™ berlem fibrin. Hal serupa tidak terjadi pada pelapisan plastik cling wrap dengan gel PRP. Kesimpulan, plastik cling wrap dapat digunakan sebagai wahana pembawa keratinosit dalam grafting selular.

HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, ASUPAN FOSFOR DAN RASIO FOSFOR-PROTEIN DENGAN KADAR FOSFOR DARAH PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIS DENGAN HEMODIALISIS RUTIN DI YAYASAN GINJAL DIATRANS INDONESIA 2010


ABSTRACT: Background: Chronic Kidney Disease (CKD) has become a public health problem worldwide. Hemodialysis (HD) is a therapy for patients with terminal CKD. Hyperphosphatemia is one cause of mortality of CKD patients on routine HD. Correction and prevention of hyperphospatemia is a major component in the management of HD patients. High diet of protein in HD patients can cause increased concentration of phosphor serum due to mineral metabolism disorder associated with decreased function of renal glumerulous filtration rate. High protein intake is often followed by high phosphor intake because food containing high protein also contains much phosphor that will cause hyperphosphatemia. Meanwhile reduction of protein intake to control phosphor is associated with physical stamina. Good ratio of phosphor-protein is necessary to provide adequate protein intake and avoid hyperphosphatemia. Objective: To identify association between intake of protein, phosphor and ratio of phosphor-protein and level of blood phosphor in patients with CKD on routine HD. Method: The study was analytic observational that used cross sectional design with quantitative method. Data were obtained through food record, interview using questionnaire and laboratory test. Analysis used chi square at confidence interval 95%. Result: There was association between protein intake (p 0.037, RP 1.36, 95% CI 1.04-1.77), phosphor intake (p 0.005, RP 1.49, 95% CI 1.12-1.99) and ratio phosphor-protein (p 0.045, RP 1.39, 95% CI 1.08-1.79) and level of blood phosphor in CKD patients on routine HD. Conclusion: Protein intake was still needed to meet nutrition status but it should be considered to select source of protein that had low ratio of phosphor-protein. Source of phosphor as well as protein should be limited to sustain normal level of blood phospor. It was suggested to consume drugs that accurately and regularly bound phosphate.

INTISARI: Latar Belakang : Penyakit ginjal kronik (PGK) telah menjadi problem kesehatan masyarakat di dunia. Hemodialisis (HD) adalah satu dari pilihan terapi pasien PGK terminal. Hiperfosfatemia merupakan penyebab kematian dari pasien dengan PGK dengan HD rutin. Koreksi dan pencegahan hiperfosfatemia adalah komponen utama dari manajemen pasien hemodialisis. Diet tinggi protein pada pasien hemodialisis dapat mengakibatkan kadar serum fosfor meningkat karena adanya gangguan metabolisme mineral yang berhubungan dengan fungsi laju filtrasi glomerulus ginjal menurun. Asupan tinggi protein seringkali diikuti dengan asupan fosfor yang tinggi karena bahan makanan tinggi protein juga banyak mengandung fosfor, yang akan menyebabkan hiperfosfatemia. Sebaliknya, pengurangan asupan protein untuk mengontrol fosfor akan berakibat daya tahan tubuh menurun. Oleh karena itu diperlukan rasio fosfor - protein dalam makanan yang rendah untuk mencukupi asupan protein dan menghindari hiperfosfatemia. Tujuan : Mengetahui hubungan asupan protein, fosfor dan rasio fosfor - protein dengan kadar fosfor darah pada pasien penderita penyakit ginjal kronis dengan hemodialisis rutin. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik, menggunakan rancangan Crosssectional dengan metode kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan food record, wawancara kuesioner dan tes laboratorium. Analisa dengan chi square dengan kepercayaan 95 %. Hasil : Ada hubungan antara asupan protein (p 0,032; RP 1,36 ; 95% CI 1,04-1,77), asupan fosfor (p 0,005 ; RP 1,49 ; 95% CI 1,12-1,99) dan rasio fosfor - protein (p 0,045 ; RP 1,39 ; 95% CI 1,08-1,79) dengan kadar fosfor darah pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis. Kesimpulan : Asupan protein tetap diperlukan untuk memenuhi status gizi tetapi perlu adanya pemilihan bahan makanan sumber protein yang mempunyai rasio fosfor - protein yang rendah. Bahan makanan sumber fosfor selain dari protein perlu dibatasi untuk menjaga kadar fosfor darah tetap normal. Dianjurkan mengkonsumsi obat pengikat fosfat dengan tepat dan teratur.

EVALUASI KESESUAIAN TERAPI DAN EFEK SAMPING PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS RUTIN DI RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


ABSTRACT: Background: Antihypertensive selection accuracy determines the achievement of therapy target toward type 2 diabetes mellitus with chronic kidney disease patients who received regular hemodialysis treatment. The use of drugs in a longtime potentially causes side effects and drug interactions as well. Objective: This research is aimed to discover the appropriate therapy and antihypertensive usage side effects on type 2 diabetes mellitus with chronic kidney patients who received regular haemodialysis treatment at RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta during February – April 2011. Method: This research employed prospective observation by evaluating the appropriateness of therapy and monitoring directly the side effects of antihypertensive agent used toward type 2 diabetes mellitus with chronic kidney disease patients who received regular haemodialysis treatment during February – April 2011. Data collected from medical record and interview with patient or their family was analyzed descriptively. Research results and conclusion: For 42 patients having type 2 diabetes mellitus with chronic kidney disease who received regular haemodialysis treatment, it was defined that patient who received appropriate therapy and achieved blood pressure therapy target was none, 4 patients (9.53%) received appropriate therapy yet the blood pressure remained uncontrolled, 2 patients (4.76%) received inappropriate therapy yet achieved controlled blood pressure and 36 patients (85.71%) received inappropriate therapy with remained uncontrolled blood pressure. From 42 patients, it was defined that there were 11 patients (26,20%) were possible and 5 patients (11,90%) were probable suffered from dry cough, 26 patients (61.91%) were possible for suffered from dizziness, 39 patients (92.86%) were possible suffered from headache, 2 patients (4.76%) were potentially suffered from fatigue and 13 patients (30,95%) were possible and 2 patients (4,76%) were probable suffered from drowsiness.

INTISARI: Latar Belakang : Ketepatan dalam pemilihan antihipertensi merupakan salah satu yang berpengaruh pada keberhasilan pencapaian target terapi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis rutin. Penggunaan obat dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relative lama berpotensi untuk menimbulkan efek samping maupun interaksi obat. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian terapi dan efek samping penggunaan antihipertensi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis rutin di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode Februari – April 2011. Metode : Penelitian dilakukan dalam bentuk observasi prospektif dengan mengevaluasi kesesuaian terapi dan memantau langsung efek samping penggunaan antihipertensi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis rutin selama periode Februari - April 2011. Data yang diperoleh dari rekam medik dan wawancara dengan pasien atau keluarga kemudian dianalisis secara deskriptif Hasil Penelitian dan Kesimpulan: Dari 42 pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis rutin diketahui bahwa pasien yang mendapatkan pilihan terapi yang tepat dan tekanan darahnya mencapai target terapi sebanyak 0%. Pasien yang mendapatkan terapi yang tepat tetapi tekanan darahnya tidak mencapai target terapi sebanyak 4 orang (9,53%). Pasien yang mendapat terapi tidak tepat tetapi tekanan darahnya mencapai target terapi sebanyak 2 orang (4,76%). Pasien yang mendapat terapi tidak tepat dan tekanan darahnya tidak tidak mencapai target terapi sebanyak 36 orang (85,71%). Dari 42 pasien, 11 orang (26,20%) possible dan 5 orang (11,90%) probable mengalami efek samping berupa batuk kering,.26 orang (61,91%) yang possible mengalami efek samping berupa pusing, 39 orang (92,86%) yang possible mengalami efek samping berupa sakit kepala,. 2 orang (4,76%) yang possible mengalami efek samping berupa lemah (fatigue),.13 orang (30,95%) yang possible dan 2 orang (4,76%) probable mengalami efek samping berupa mengantuk.

PERAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN (DIKLATPIM) TINGKAT IV DALAM MENCIPTAKAN SDM BERKUALITAS (STUDY DI KEDEPUTIAN BIDANG PENGKAJIAN STRATEGIK LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL RI)


ABSTRACT: This research is done to know the ability of the steadiness and understanding of Diklatpim level IV Badiklat Defense Ministry to create civil worker in a good government administration defense in the nasional defense institation and its influense to the society in general, also its implication to the nasional defence.This research is done by qualitative method by collecting data through deep interview with the respondent and continued by sorting the data. The improvement and development of working can not be separated from working disipline, because the connection of working-working dicipline level is very close with working productivity,and if the workerds working dicipline is low,it will give influence into low human resourse too. From the achievement of workers, they succestor failure to reach the organisation goal will beseen. Where to start, and the influence factors of the working area, is classified in to three parts, i.e. organization problem, discipline and working atmosphere. Strategy improvement of working disipline to increase human resources cover are first, improve motivation, second, increase the members wealth, third, member statement to be ready to work, fourth, thightly supervision. Objective condition of workers and working productivity from the research result can be said is still low, and that Diklatpim IV is influenced much by dicipline level,so the strategy to increase the understanding diklatpim level IV Badiklat Defence Ministry used to create civil worker in a good Defence Ministry environment, is headed key word : Diklapim level IV, the ability to create civil worker, National Defence
INTISARI: Pegawai Negeri Sipil yang meurpakan asset terpenting bagi pemerintah, agar dapat berfungsi dengan baik, perlu diberikan kesempatan untuk berkembang, karena pada kenyataannya selama ini banyak unit organisasi pemerintahan yang belum melaksanakan pengembangan pegawai secara baik. Hal ini terindikasi dari belum terlaksananya tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan dengan baik. Lembaga Ketahanan Nasional sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen yang mempunyai tugas utama melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Pengkajian dan Pendidikan Strategik Ketahanan Nasional. Untuk pengembangan Pegawai negeri Sipil di lingkungan kedeputian Bidang Pengkajian Strategik Lemhannas RI dalam membentuk SDM yang berkualitas yang memiliki : profesionalitas, dan memiliki semangat jiwa kejuangan yang dimiliki oleh organisasi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan PNS melalui Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV untuk Pejabat yang duduk dalam struktural Eselon IV, yang merupakan ujung tombak dalam melayanimasyarakat. Konsep kunci dalam penelitian ini adalah Peran Diklatpim Tingkat IV Dalam Rangka Menciptakan SDM yang Berkualitas Pada Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lemhannas RI. Adapun aspek-aspek yang akan diteliti dan dapat diukur adalah : Pendidikan dan Pelathan Kepemimpinan Tinngkat IV, adapun sub-sub aspek yang diteliti adalah : 1. Kehadiran pegawai, dengan sub aspek : a. Ketaatan terhadap ketentuan jam kerja b. Ketaatan terhadap ketentuan waktu datang c. Ketaatan terhadap ketentuan waktu pulang 2. Pengawasan Pimpinan 3. Penjatuhan Sanksi/HukumanDisiplin 4. Kualitas Kinerja yang dihasilkan oleh PNS yang telah mengikuti Diklatpim Tingkat IV 5. Proses rekruitmennya apakah sudah terencana dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta Diklat Penelitian ini dilakukan dnegan menggunakan Metode Penelitian Kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara Wawancara, telaah dokumen dan menggunakan chek list. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Peran Diklatpim Tingkat IV Dalam Rangka Menciptakan SDM yang Berkualitas pada Kedeputian Bidang pengkajian Strategik Lemhannas RI cukup baik, maka untuk mencapai yang lebih baik, disarankan untuk Pimpinan Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lemhannas RI betul-betul mengusulkan Personil yang berprestasi kepada bagian Kepegawaian untuk mengikuti Diklatpim secara berkesinambungan. Hal ini dikarenakan kurangnya perencanaan pelaksanaan program Diklatpim Tingkat IV maupun kurangnya koordinasi dan sinergitas antara pihak Kepegawaian Lemhannas RI dengan pihak penyelenggara program Diklat seperti : Kementerian Pertahanan, LAN, Kementerian Agama, dan penyelenggara program diklat lainnya.

Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan, Kesehatan Dan Infrastruktur terhadap Human Development Index (HDI)


ABSTRACT: The research aims to analyze the influence of government expenditure in educational, health and infrastructure sector on Human Development Index (HDI) in Indonesia in 2004-2008. The government expenditure in infrastructure is proxied by the variable of the government infrastructure expenditure in housing and public facility. The government expenditures in education, health and infrastructure sectors are investment in Human Development Index. The research used panel regression ie Fixed Effect model approach. The result of this resarch is that the government expenditure in education, health and infrastructure sector has positive influence in developing Human Development Index in Indonesia. However, the government expenditures in education doesn’t have significant impact on HDI

INTISARI: Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pengeluaran pemerintah atas pendidikan, kesehatan dan infrastruktur terhadap Human Development Index (HDI) di Indonesia periode 2004-2008. Pengeluaran pemerintah atas infrastruktur diwakilkan dengan variabel pengeluaran pemerintah atas perumahan dan variabel pengeluaran pemerintah atas fasilitas umum. Pengeluaran pemerintah atas pendidikan, kesehatan dan infrastruktur pada dasarnya merupakan suatu investasi terhadap Human Development Index. Efek pembangunan pada ketiga sektor tersebut tidak dapat berdampak langsung melainkan membutuhkan beberapa periode untuk dapat merasakan dampaknya. Dengan menggunakan metode regresi data panel, yaitu pendekatan model Fixed Effect, diperoleh hasil bahwa pengeluaran pemerintah dalam bidang pendidikan,kesehatan, dan infrastruktur berpengaruh positif dalam meningkatkan Human Development Index di Indonesia. Hasil analisis pengaruh pengeluaran pemerintah dalam bidang kesehatan dan infrastruktur berpengaruh meningkatkan HDI indonesia dan signifikan. Sedangkan pengaruh pengeluaran pemerintah dalam bidang pendidikan berpengaruh meningkatkan HDI indonesia namun tidak signifikan.

PENGARUH BIAYA PENDIDIKAN TERHADAP MUTU PRESTASI BELAJAR DENGAN MUTU PROSES BELAJAR MENGAJAR SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI KOTA BANDAR LAMPUNG


ABSTRACT: The purpose of this studywas to testthat the cost of education affects thequality oflearning achievement through quality teaching and learning process at the State Junior High School City ofBandarLampung. The costof educationin this studyfocusesonthe cost ofschooleducationbased on documentsobtained byAPBS. Study sample was 31 Bandar Lampung junior high school. Testscarried out usingsimplelinearregressionandmultiple linear regressions. The results showedthat the costof educationaffects thequality oflearning achievementthroughqualityteaching and learning process, while theeducationalcomponent ofthe allocation ofcoststhat affect thequality oflearning achievementis the cost ofresourcesand services,the cost ofteacher professional development andstudent activitiesfee. Forcost allocationcomponentthat affectsthe quality ofteaching and learningprocessareother costs, the cost ofteacher professional development, resourcesand servicescosts, the cost of providingteaching and learning processandthe costof student activities.

INTISARI: Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji bahwa biaya pendidikan berpengaruh terhadap mutu prestasi belajar melalui mutu proses belajar mengajar pada Sekolah Menengah Pertama Negeri Kota Bandar Lampung. Biaya pendidikan pada penelitian ini berfokus pada biaya pendidikan yang diperoleh sekolah berdasarkan dokumen APBS.Sampel penelitian adalah 31 Sekolah Menengah Pertama Negeri Kota Bandar Lampung.Pengujian dilakukan dengan menggunakan regresi linear sederhana dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya pendidikan berpengaruh terhadap mutu prestasi belajar melalui mutu proses belajar mengajar, sedangkan komponen alokasi biaya pendidikan yang berpengaruh terhadap mutu prestasi belajar adalah biaya daya dan jasa, biaya pengembangan profesi guru dan biaya kegiatan kesiswaan. Untuk komponen alokasi biaya yang berpengaruh terhadap mutu proses belajar mengajar adalah biaya lain-lain, biaya pengembangan profesi guru, biaya daya dan jasa, biaya penyelenggaraan proses belajar mengajar dan bia ya kegiatan kesiswaan.

PENDIDIKAN SEKS DALAM KELUARGA DI ERA MODERN (Studi Pada Sepuluh Keluarga Yang Mempunyai Anak Remaja Perempuan Di Kelurahan Banguntapan,Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul)


ABSTRACT: Sexual education for adolescents to be one way to transfer all kinds of knowledge related to healthy sexuality, physical, psychological, and social order capable of preventing or reducing adolescent sexual abuse that have a negative impact. Parents as a source of information for a child's first sexual education should be delivered early and continuous. This study intends to find out the meaning of the parents towards sexual education for adolescent girls and how they implement these concepts. The method used in this study is a qualitative descriptive. This study uses the theory of social construction Berger and Luckmann and analysis of power Michel Foucault, with the presentation of the results and analysis of narrative. Informants in this study are grouped into key informants (community leaders) as much as two people, the key informants as many as 10 pairs of parents and 10 adolescents (girls from key informants) as an informant supporters. The results showed that the variation of meaning is affected by reserves of knowledge (stock of knowledge) that have each informant. The meanings of sex education, most of the skilled working class parents are limiting the meaning to something that can grow for teens terrified even one informant in this social class interpret it as a taboo and dangerous. Although the informants of social class is still limiting the meaning of sex education in being set apart in eliciting fear, but there has been a shift in resources to raise fears over the source of fear in which the logic of cause and effect on sexual behavior or religious spectacles. In the lower middle class family, meaning parents towards sex education is no longer constrained to give a sense of fear, but limited to the appearance of the responsibility to maintain the honor of their parents. While middle-class parents make sense of sexual education as something that can foster a sense of responsibility to keep the teenagers themselves. In the application, most of the skilled working class informants have less tendency to give their attention to the sexual problems of their children. Power relations are still strongly relies on parents as a center distance of the parents raise the child so that attention and a discussion of sexual issues with children is difficult to form. In the lower middle social classes, the implementation of sexual education based on the power of knowledge that are more productive and power relations that existed more spread out between parents and children so it is not always the foundation of the power lies in the elderly. In the middle class, power relations of parents with children who are no longer bring up the repressive atmosphere of the dialogue in the family. This encourages a form of attention and discussion of sexual problems than children who are more open to parents and vice versa.

INTISARI: Pendidikan seksual bagi remaja menjadi salah satu cara untuk mentransfer segala macam pengetahuan yang berkaitan dengan seksualitas yang sehat fisik, psikis, dan sosial agar remaja mampu mencegah ataupun mengurangi penyalahgunaan seks yang berdampak negatif. Orang tua sebagai sumber informasi pertama bagi seorang anak seharusnya menyampaikan pendidikan seksual sejak dini dan berkesinambungan. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui pemaknaan orang tua terhadap pendidikan seksual bagi remaja perempuan serta bagaimana mereka melaksanakan konsep-konsep tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Studi ini menggunakan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann serta analisis kuasa Michel Foucault, dengan penyajian hasil dan analisis berbentuk narasi. Informan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi informan kunci (tokoh masyarakat) sebanyak dua orang, informan utama sebanyak 10 pasang orang tua, dan 10 remaja (anak perempuan dari informan utama) sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi pemaknaan yang dipengaruhi oleh cadangan pengetahuan (stock of knowledge) yang dimiliki masing-masing informan. Dalam memaknai pendidikan seks, sebagian besar orang tua kelas pekerja trampil masih membatasi pemaknaan tersebut pada sesuatu yang dapat menumbuhkan ketakutan bagi anak remaja bahkan satu orang informan di kelas sosial ini memaknainya sebagai sesuatu yang tabu dan membahayakan. Meskipun para informan kelas sosial ini masih membatasi pemaknaan pendidikan seks pada sesuatu yang diperuntukkan dalam memunculkan ketakutan, tetapi telah ada pergeseran sumber untuk memunculkan ketakutan itu dimana sumber ketakutan lebih pada logika sebab akibat perilaku seksual ataupun pada kacamata religi. Di keluarga kelas menengah bawah, pemaknaan orang tua terhadap pendidikan seksual tidak lagi dibatasi memberi rasa takut tetapi dibatasi pada pemunculan tanggung jawab untuk menjaga kehormatan orang tua. Sedangkan orang tua kelas sosial menengah memaknai pendidikan seksual sebagai sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab anak remaja untuk menjaga dirinya sendiri. Dalam penerapan, sebagian besar informan kelas pekerja trampil mempunyai kecenderungan kurang memberikan perhatian mereka pada masalah seksual anak-anaknya. Relasi kuasa yang masih kuat bertumpu pada orang tua sebagai pusat memunculkan jarak orang tua dengan anak sehingga perhatian dan kesempatan diskusi masalah seksual dengan anak sulit terbentuk. Di kelas sosial menengah bawah, implementasi pendidikan seksual didasari oleh kuasa pengetahuan yang lebih bersifat produktif dan relasi kuasa yang terjalin lebih menyebar antara orang tua dengan anak sehingga tidak selalu tumpuan kuasa terletak pada orang tua. Pada kelas menengah, relasi kuasa orang tua dengan anak yang tidak lagi bersifat represif memunculkan suasana yang dialogis dalam keluarga. Hal ini mendorong bentuk perhatian dan diskusi masalah seksual yang lebih terbuka dari anak ke orang tua maupun sebaliknya.

PEMAHAMAN GURU TENTANG KECERDASAN MAJEMUK DAN APLIKASINYA DI TEMPAT PENITIPAN ANAK


ABSTRACT: The purpose of this research is to know teacher‟s comprehension of multiple intelligences and its application at Daycare or Tempat Penitipan Anak (TPA). The subjects of this research are 4 (four) Daycare teachers, 5 (five) informants consist of 3 (three) Daycare teachers and 1 (one) head master also 1 (one) children parent. The research was conducted at Daycare “Tunggadewi Jogyakarta”. Method of this research is qualitative method by using phenomenological approach. In applying phenomenological approach the researcher was used Moustakas theory; such as, epoche, phenomenological reduction, imaginative variation, and synthesis of meaning and essence. This research found that two of four Daycare teachers in Tunggadewi is still lack of comprehension about multiple intelligences aspects. However, the application of multiple intelligences in the learning process is done well by all teachers at Daycare.

INTISARI: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seperti apa pemahaman guru tentang kecerdasan majemuk serta aplikasinya di Tempat Penitipan Anak (TPA). Subjek penelitian ini adalah 4 orang guru TPA, dan informan penelitian sebanyak 5 orang yang terdiri dari 3 orang guru TPA, 1 orang Kepala Sekolah dan 1 orangtua anak yang dititipkan di TPA. Lokasi penelitian bertempat di Tempat Penitipan Anak Tunggadewi Jogjakarta. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Dalam proses fenomenologi, peneliti menggunakan teori Moustakas, berupa epoche, phenomenological reduction, imaginative variation, dan syntesis of meaning dan essence. Hasil dari penelitian ini adalah 2 dari 4 orang subjek penelitian yang berprofesi sebagai guru di TPA Tunggadewi belum begitu memahami tentang aspek-aspek dari kecerdasan majemuk. Namun aplikasi dalam pelaksanaan pembelajaran di TPA, semua guru dapat melaksanakannya.

MODEL PELAYANAN RAWAT INAP TERPADU SEBAGAI BASIS INTEGRASI ANTAR PROFESI DALAM PELAYANAN KESEHATAN DI RS PENDIDIKAN RSUP Dr HASAN SADIKIN


ABSTRACT: Background. Interdisciplinary model of patient care was developed to integrate multiprofessional practices in health care services of tertiary teaching hospital in Bandung West Java. The aim of the development of this model primarily is to enhance a good health care services in hospital ward through cohesive colaborative practice. Cohessiveness in collaborative practice is needed to bridge the classical problems of multidisiplinary approach of caring where every single discipline work on their own, so that lack of coordination and role overlap could be managed and patient’s need of care were delivered safely, integrated and continuously. Cohessiveness was established by creating the culture of interdisciplines in the four components of model namely care path, teamwork on patient care, integrated patient documentation, and interdisciplinary case conference. The aim of this study is to evaluate collective and expert culture among physicians and nurses and its impact on patient safety, quality of care and patient satisfaction. Methodology. Post test only research design was conducted to measure collective and expert culture of physicians and nurses. In the 1st measurement 39 phisicians and 32 nurses participated, in 2nd measurement 22 physicians and 25 nurses participated . Incidents of patient safety was identified through the number of diagnostic error, treatment error, preventive error, and others error. Evaluation of quality of care was examine through observation based on objective standards of care delivery, and patients satisfaction through questionnaires. Data were analyzed with test of mean difference, Poisson regression and anova at α 0,05. Results. Collective culture signicantly greater than expert culture in three components of model in the 1st measurement. In the 2nd measurement collective culture greater significantly than expert culture in the four components of model. On the incidence of patient safety there was decreasing between 1st and 2nd measurement by 45% in diagnostic errors, 49.5% in treatment errors, 88.12% in preventive errors and 100% in others. On the quality of care, there was an increase in the compliance of standard of care from 76.4% in the 1st to 80.57%in 2nd measurement. There was decreased of patients satisfaction from 94.5% in the 1st to 89.48% in 2nd measurement, but the patients’ expectation increase from 4.12 to 4.61 in the scale of 1-5. Statistically there was no significant difference of the effect of culture of interdisciplines on the patients safety, quality of care and patients satisfaction. Conclussion. Shared expertise as the core of collective culture and spirit of the Interdisciplinary health care do exist and strengthen in this collaborative professional practice. However its effect on the patient satisfaction, quality of care and patient satisfaction is not statistically significant.

INTISARI: Latar belakang. Penelitian tentang pengembangan Model Pelayanan Rawat Inap Terpadu (MPRIT) sebagai basis integrasi antar profesi dalam pelayanan kesehatan dilakukan di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. Tujuan awal pengembangan model adalah meningkatkan tata kelola pelayanan kesehatan di tatanan rawat inap guna mengatasi fragmentasi pelayanan karena tumpang tindihnya peran dan fungsi pelaksana asuhan dari berbagai disiplin profesi baik sebagai praktisi, pendidik maupun praktikan, sehingga potensi kerawanan terhadap berbagai kesalahan yang utamanya terkait dengan situasi atau sistem dapat diminimalisasi. Pengembangan MPRIT difokuskan pada proses menumbuhkan kultur interdisiplin sebagai spirit praktik kolaborasi antar professional kesehatan melalui empat komponen model. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kultur interdisiplin dan pengaruhnya terhadap keselamatan pasien, kualitas asuhan dan kepuasan pasien. Metodologi. Evaluasi kultur interdisiplin menggunakan rancangan post test design only dengan melakukan dua periode pengukuran terhadap dokter dan perawat. Pada pengukuran I, 39 dokter dan 32 perawat berpartisipasi, pada pengukuran II, 22 dokter dan 25 perawat berpartisipasi. Evaluasi terhadap insiden keselamatan pasien diukur dari angka kejadian terkait kesalahan (proses) diagnosis, kesalahan perlakuan, kesalahan pencegahan dan kesalahan lain. Evaluasi kualitas asuhan dilakukan melalui pengamatan dengan standar objektif terhadap alur proses pengelolaan pasien , survey kepuasan pasien dengan evaluasi subjektif melalui kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji beda mean, regresi poisson dan uji anova. Hasil. Kultur kolektif secara signifikan lebih besar dari kultur individu, pada tiga komponen di pengukuran I dan menguat di pengukuran II yang ditunjukkan oleh kultur kolektif lebih besar dari kultur individu secara signifikan di semua komponen model. Antara pengukuran I dan II, pada insiden keselamatan pasien terdapat penurunan angka kejadian sebesar 45% pada insiden terkait kesalahan proses diagnosis, 49,5% pada insiden terkait kesalahan perlakuan, 88,12% terkait kesalahan pencegahan dan 100% terkait kesalahan lain. Pada kualitas pelayanan, terjadi kenaikan dari 76,4% menjadi 80,57%. Pada variable kepuasan pasien, ada penurunan kesesuaian antara pengalaman dan harapan pasien yaitu 94,5% pada pengukuran I menjadi 89,48% pada pengukuran II karena terjadinya kenaikan ekspektasi pasien dari 4,12 menjadi 4,61. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara menguatnya kultur interdisiplin dengan keselamatan pasien, kualitas asuhan dan kepuasan pasien. Kesimpulan. Kultur interdisiplin sudah terbentuk dan menguat pada dokter dan perawat di unit MPRIT. Menguatnya kultur interdisiplin secara signifikan belum berpengaruh pada keselamatan pasien, kualitas pelayanan dan kepuasan pasien.

MENIGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN STRATEGI THINK-PAIR-SHARE PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SMK N 4 YOGYAKARTA


ABSTRACT: The success of learning program is very much dependent upon a role played by a teacher in a teaching and learning process. Good relationship and cooperation become important to achieve the learning objectives. The problem is often encountered in the learning process is that the lack of students learning motivation. This is because of the students perception that Civics is the subject to be memorized and the learning materials are available in the books/modules. The other reasons are the students are not attentive and active in the learning process, hesitation in expressing opinions before their classmates. Facing this situation, a teacher needs a effort to find out strategies that enable to activate and motivate students in the teaching and learning process. One of the strategies that can be applied to increase students learning motivation is the Think-Pair-Share Strategy. As the meaning implied in the term, the strategy involves the student to think, working together in pair and share their ideas with their pairs in coping up with problems. This strategy, therefore, can be a solution in an effort to increases students learning motivation, especially Civics learning. The aim of this research is to know the enhancement of students learning motivation after the Think-Pair-Share Strategy is applied to Civics learning process at SMK N 4 Yogyakarta. Research method used by the researcher is the quasi-experiment with non randomized repetition experimental design (non randomized pretest posttest control group design), in which two groups are involved that is grade XI Boga 1 as experimental group, grade XI Boga 2 as control group. Technique used in collecting data was that questionnaire was given to both groups before and after the treatment to see if there is difference in increase of learning motivation between the two groups. Data is analyzed quantitatively. The result is that there is a significant increase in students learning motivation on the experimental group after applying the Think-Pair-Share Strategy. The average of pretest and posttest increases compared to that of control group. The conclusion is that Think-Pair-Share strategy enables to increase students learning motivation on civics subject.

INTISARI: Guru dalam proses pembelajaran memegang peranan yang sangat penting terhadap berhasil atau tidaknya program pembelajaran. Antara guru dan siswa harus terjalin suatu kerjasama yang baik. Dengan adanya kerjasama yang baik, dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan baik dari guru maupun dari siswa. Permasalahan yang sering dihadapi pada saat proses pembelajaran adalah kurangnya motivasi belajar siswa. Hal ini dikarenakan siswa menganggap pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah pelajaran hafalan dan materinya sudah ada di buku/modul, kurangnya perhatian dan keaktifan siswa pada saat pembelajaran, serta kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan pendapatnya dihadapan teman-temannya. Sehingga guru perlu mengupayakan sebuah strategi yang dapat mengaktifkan dan memotivasi siswa dalam proses belajar mengajar. Salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi siswa adalah strategi Think-Pair-Share. Dalam strategi ini, siswa diajak untuk berpikir, berpasangan dan berbagi dalam menyelesaikan masalah yang ada. Sehingga Strategi ini dapat menjadi salah satu solusi untuk menjadikan pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan terutama pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa setelah penerapan strategi Think-Pair-Share pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMK N 4 Yogyakarta. Metode penelitian yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain eksperimen ulang non random (non randomized pretest posttest control group design), dengan menggunakan dua kelas yaitu kelas XI Boga 1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas XI Boga 2 sebagai kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuestioner kepada kedua kelompok sebelum dan setelah tindakan untuk melihat apakah ada perbedaan peningkatan motivasi belajar siswa di kedua kelas tersebut. analisis data dilakukan secara kuantitatif, karena pendekatan yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan yang signifikan skor motivasi belajar siswa pada kelompok eksperimen setelah penerapan strategi think-pair-share dilihat dari jumlah nilai rata-rata posttest – pretest kelompok eksperimen dan nilai rata-rata posttest - pretest kelompok kontrol,sehingga dapat disimpulkan bahwa strategi Think-Pair-Share dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

GAYA BAHASA ALQUR’AN PERIODE MEKAH KAJIAN STRUKTURAL-SEMIOTIK


Tesis ini mengkaji gaya bahasa Al-quran periode Mekah, dengan pendekatan struktural-semiotik. Gaya bahasa, secara sederhana, adalah cara pengarang dalam mengungkapkan sesuatu. Gaya bahasa memiliki beberapa unsur, mencakup antara lain: unsur leksikal, unsur gramatikal, retorika (pemajasan, penyiasatan struktur dan pencitraan) dan kohesi.
Pendekatan struktural digunakan unt uk menunjukkan bahwa Alqur’an, khususnya surat-surat  Makkiyyah, memiliki totalitas dan koherensi antar bagian yang menyusunnya. Dalam penelitian ini, totalitas dan koherensi tersebut diasumsikan mula-mula pada surat secara individual, sebelum pada surat-surat  Makkiyyah  secara keseluruhan. Pendekatan semiotik digunakan untuk memaknai fenomena kebahasaan  Alquran, tidak hanya pada makna  literalnya melainkan juga makna tingkat lanjut yang mampu mengabstraksikan lebih jauh struktur wacana Alqur’an. Kajian gaya bahasa demikian pada gilirannya dapat menuntun pada ditemukannya nada kepengarangan Alquran (auhorial tone) hingga akhirnya menunjukkan pula kekhasan kepengarangannya  (idiosyncrasy) di hadapan kepengarangan lain.
Mengingat luasnya fakta kebahasaan Alqur’an periode Mekah, penelitian ini hanya memfokuskan kepada gaya bahasa pendahulua n surat yang menonjol sepanjang periode dimaksud. Menggunakan skema kronologis surat  yang ditawarkan Theodor Noeldeke yang disempurnakan berikutnya oleh Schwally, dari 90 surat  Makkiyyah, ditemukan tiga gaya bahasa pendahuluan surat  yang menonjol,  yaitu sumpah (17 surat), pertanyaan (8 surat) dan huruf  muqatta‘ah (27 surat). Kecuali satu surat yang berada dalam periode pertengahan, gaya bahasa sumpah menjadi pendahuluan surat-surat Makkiyyah periode awal. Hal yang sama terjadi pada gaya bahasa Pertanyaan. Selain satu surat  Makkiyyah  awal, gaya bahasa huruf muqatta‘ah banyak didapati dalam surat-surat  Makkiyyah periode pertengahan (10 surat),  dan semakin mendominasi pada periode Mekah akhir (16 surat).
Penggunaan ketiga gaya bahasa di atas  mengindikasikan bahwa tema sentral  (mihwar)  Alqur’an periode Mekah adalah otentikasi wahyu dan risalah Muhammad. Jika skema kronologis Noeldeke-Schwally benar, maka ketiga gaya bahasa di atas dapat menggambarkan tahapan dakwah Muhammad yang sangat polemis, sejak awal kenabiannya hingga mendekati masa transisi, hijrah. Sumpah merefleksikan masa-masa awal dakwah Muhammad ketika Tuhan berusaha meyakinkan manusia untuk menerima otentisitas Alqur’an dan Muhammad. Sumpah digunakan untuk meneguhkan otentisitas dimaksud di tengah penolakan masyarakat. Pada saat yang sama, di bagian
tertentu dari periode Mekah awal ini,  Alqur’an juga menggunakan gaya bahasa pertanyaan yang  memuat sindiran dan  peringatan kepada manusia yang ingkar. Memasuki periode Mekah pertengahan, penolakan terhadap otentisitas wahyu dan risalah Muhammad meningkat menjadi permusuhan yang semakin intens. Hal itu ditengarai dari makin keras dan emosionalnya  bahasa  yang digunakan Alqur’an. Pada periode ini, penggunaan sumpah dan pertanyaan pendahuluan surat menurun secara dramatis, dan mulai digantikan oleh huruf muqatta‘ah. Jika dalam periode  tengahan, meski dengan nada yang muram dan penuh keputusasaan, huruf-huruf misterius tadi masih menyisakan harapan akan keimanan manusia, maka dalam periode Mekah akhir, fawatih al-suwar yang sama mengandaikan klimaks dari perseteruan yang tak terdamaikan antara Muhammad dan mereka yang memusuhinya. Pada titik ini, surat-surat  Makkiyyah menampilkan perasaan heran dan keputusasaan yang sangat mendalam terhadap kekafiran manusia. Berbagai cara yang sudah ditempuh untuk meyakinkan manusia diantaranya melalui penggunaan sumpah dan pertanyaan untuk menyampaikan argumentasi kebenaran  Alqur’an dan Muhammad yang menyoal naratif, kosmologi dan eskatologi terbukti tidak cukup ampuh untuk meluruskan manusia. Dalam kondisi demikian, Tuhan pun seolah kehabisan kata-kata.
Ketika modus komunikasi normal tidak lagi efektif, Alqur’an semakin intens menggunakan  huruf muqatta‘ah yang menengarai kegagalan bahasa yang wajar di satu sisi, dan keputusasaan di sisi yang lain . Surat-surat dengan pendahuluan  huruf  muqatta‘ah  yang emosional dan keras itu mengintrodusir perintah Tuhan agar Muhammad menarik garis demarkasi yang jelas dari manusia yang ingkar, penyempitan tugasnya untuk hanya membimbing mereka yang mau beriman, dan ancaman hukuman yang pedih bagi  orang kafir di akhirat kelak. FILE COMPLETE

TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK ATAS TANAH BERKAITAN DENGAN PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN


DAFTAR ISI

LEMBARAN JUDUL
PERNYATAAN
LEMBARAN PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI
BAB I    PENDAHULUAN
    1.1.  Latar Belakang Penelitian
              1.2.  Identifikasi Masalah
              1.3.  Tujuan Penelitian
    1.4.  Kegunaan Penelitian
1.5.    Kerangka Pemikiran
1.6.     Metode Penelitian
1.7.    Sistematika Penulisan
BAB II   TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK ATAS TANAH                   
      2.1.  Sistem Pertanahan Berdasarkan Undang-Undang Pokok Agraria     
               2.2.  Hak-Hak Atas tanah Dalam UUPA
               2.3.  Terjadinya Hak-Hak Atas Tanah
               2.4.  Cara Perolehan Hak Atas Tanah Berdasarkan UUPA

BAB III    BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN
                 BANGUNAN DALAM HUKUM INDONESIA
        3.1.  Ketentuan Bea Perolehan Hak Atas Tanah
       Dan Bangunan Berkaitan Dengan Peranan Masyarakat Dalam Pembangunan    
        3.2   Pengenaan BPHTB Dalam Sistem Perpajakan
        3.3.  Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Dalam Rangka Pengenaan BPHTB
        3.4.  Undang-Undang Lain Yang Berkaitan Dengan Undang-Undang Bea Perolehan
       Hak Atas tanah dan Bangunan
BAB IV     HAK-HAK ATAS TANAH DALAM RANGKA
                  PENGENAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS
                   TANAH DAN BANGUNAN
           4.1.  Pengenaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan
                    4.2.  Proses Hak-Hak Atas Tanah Dalam Praktek
BAB  V     KESIMPULAN DAN SARAN
                     5.1.   Kesimpulan
                     5.2.   Saran
DAFTAR PUSTAKA           



BAB  I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang Penelitian
Bagi negara Republik Indonesia yang sedang meningkatkan pembangunan untuk menuju masyarakat adil dan makmur, pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang penting bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, hal ini menempatkan kewajiban perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kenegaraan yang merupakan peran serta dalam pembiayaan dan pembangunan nasional guna tercapainya masyarakat yang adil dan makmur, dan sejahtera.[1]
            Pembangunan Nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara  untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.[2]
Suatu kenyataan bahwa perekonomian nasional dewasa ini berada dalam kondisi relatif rendah, laju inflasi tinggi, sedang angka investasi rendah, jumlah penduduk miskin semakin meningkat serta defisit anggaran dan neraca pembayaran  yang belum sehat. Terhadap permasalahan yang dihadapi di atas, pemerintah berupaya melakukan berbagai kebijakan ekonomi diantaranya meletakkan ketentuan dasar bagi pemungutan pajak. Namun hal tersebut tidaklah mudah dalam realisasinya karena di samping kondisi perekonomian seperti telah disebutkan di atas, maka faktor intern birokrasi yang cenderung rumit serta penyelenggara negara yang masih sarat dengan beraneka penyimpangan dan pelanggaran semakin ikut memperburuk keadaan.[3]
Baik bidang pertanahan yang mempunyai fungsi sosial maupun bangunan yang memberikan keuntungan atau kedudukan sosial ekonomi yang lebih baik bagi orang pribadi atau badan yang memperoleh suatu hak atas tanahnya, maka  wajar apabila mereka yang memperoleh hak tersebut diwajibkan membayar pajak kepada negara. Sesuai dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi :
“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Bidang tanah adalah bagian permukaan bumi yang merupakan satuan bidang tanah yang terbatas dan inilah yang merupakan objek dari pendaftaran tanah.
Tanah sebagai bagian dari bumi yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa serta memenuhi kebutuhan dasar untuk papan dan lahan juga merupakan alat investasi yang sangat menguntungkan, oleh karena itu bagi mereka yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan, adalah cukup pantas untuk menyerahkan sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak, yang dalam hal ini dikenal dengan “Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan” di singkat BPHTB.[4]


[1]     PP Nomor 24/1997, tentang Pendaftaran Tanah, dilengkapi Undang-Undang BPHTB, BP.Cipta Jaya, Jakarta, 1997, hlm.111.
[2]     Propenas 2000-2004, Undang-Undang Nomor25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional, Sinar Grafika, Jakarta. 2003, hlm.10.
[3]     Amandemen ke Empat Undang-Undang Dasar 1945, Penerbit Citra Umbara, Bandung, 2002, hlm.21
[4]     PP Nomor 24/1997, tentang Pendaftaran Tanah, dilengkapi Undang-Undang BPHTB, Op.Cit,hlm.111.

PEMBACAAN POSMODERNISME (DEKONSTRUKSI METANARASI) ATAS IDEOLOGI PERDAMAIAN SATYAGRAHA MAHATMA GANDHI

Mahatma Gandhi

INTISARI
Penelitian  tesis  ini  bertujuan  melakukan  dekonstruksi  metanarasi  atas  ideologi perdamaian Satyagraha Gandhi. Argumen yang diajukan adalah Satyagraha merupakan metanarasi yang hanya menekankan pemaknaan tunggal tentang manusia dan perdamaian .Oleh sebab itu, harus didekonstruksi menjadi wacana-wacana yang plural serta menolak oposisi biner yang arbitrer. Kerangka  analisis  yang  dirancang  terdiri  atas  dua  kerangka  konsepsi: Pertama, pendefinisian metanarasi menurut Jean Franquis Lyotard, Jacques Derrida, dan Michel Foucault. Kedua,prosedur dekonstruksi yang terdiri atas; 1) Wacana plural dari Foucault, 2) Logika jalan tengah oleh Derrida, 3) Etika posmodernisme Zygmunt Bauman. Secara ringkas hasil-hasil penelitian ini adalah: 1) Terdapat wacana Satyagraha merupakan  kebajikan bagi  semua yang  hidup,  sebagai wacana  lain bahwa Satyagraha adalah kebenaran Tuhan, 2) Pada kenyataan nirkekerasan dan kekerasan tidak merupakan oposisi  biner  yang  arbitrer,  keduanya  adalah  pilihan  bertindak  atas  dasar  rasionalitas situasi  serta  nilai-nilai  etika  yang  relatif,  3)  Tidak  terdapat  integrasi  total  antara  cara dengan tujuan damai.
 Kata kunci; Gandhi, Satyagraha, Dekonstruksi